3 Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang, Kerajaan Milik Joko Tingkir

3 Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang, Kerajaan Milik Joko Tingkir – Salah satu kerajaan Islam yang begitu tersohor di Tanah Jawa adalah kerajaan Pajang. Memang, dahulu kala perkembangan Islam di Jawa salah satunya dipelopori oleh kerajaan Islam pertama yang ada di Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Setelah Kerajaan Demak runtuh, maka bergantilah kerajaan tersebut dengan kerajaan Islam lain yang tak kalah hebat yakni Kerajaan Pajang.

Mengingat nama Kerajaan Pajang tak lain juga kita mengingat nama tokoh, yakni Joko Tingkir. Karena memang Kerajaan Pajang ini didirikan oleh Jaka Tingkir. Tokoh yang berhasil menyingkirkan saingannya untuk kemudian memindahkan pusat kerajaan Demak ke daerah Pajang. Setelah Joko Tingkir meninggal, tahta kerajaan diambil alih oleh putra-putranya. Nah, siapa sajakah raja yang memerintah kerajaan Pajang? Yuk simak selengkapnya!

3 Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang

Pertama, Jaka Tingkir

Raja dari kerajaan pajang, Jaka Tingkir mempunyai banyak sebutan nama, diwaktu kecil panggilannya Mas Krebet. Karenakan ketika Jaka Tingkir lahir ada pertunjukan wayang di rumahnya. Jaka Tingkir mempunyai banyak sebutan nama, diwaktu kecil panggilannya Mas Krebet. Karenakan ketika Jaka Tingkir lahir ada pertunjukan wayang di rumahnya.

Pada saat remaja, ia mempunyai nama Jaka Tingkir, dan mendapat gelar “Hadiwijaya” setelah berkuasa di pajang, Jaka Tingkir menjadi menantu dari Sultan Trenggana (Sultan Kerajaan Demak). Jaka Tingkir berasal dari daerah Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Jaka Tingkir juga merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari daerah Kadilangun.

Jaka Tingkir mendirikan kerajaan islam baru setelah berakhirnya dari kerajaan Demak. Kerajaan tersebut tidak bertahan lama, tapi bukan berarti kerajaan ini tidak memberikan perkembangan apa-apa terhadap perluasan islam di Jawa Tengah, Dibawah pimpinan Jaka Tingkir kerajaan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Kemajuan yang dialami yaitu usaha ekspansi wilayah kekuasaan, seperti ekspansi ke daerah Madiun. Selain itu, Pajang juga berhasil melakukan ekspansi ke daerah Blora pada tahun 1554 M dan daerah Kediri tahun 1577 M. Jaka Tingkir berhasil mendapatkan pengakuan dari seluruh adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Pada tahun 1581 M. Pada masa pemerintahannya jugalah mulai dikenal di daerah pesisir, yaitu kesusastraan dan kesenian dari keraton yang sudah terkenal sebelumnya.

Kesusastraan dan kesenian keraton tersebut sebelumnya berkembang di Demak dan Jepara. Selain itu, yang terpenting adalah pengaruh Islam yang kemudian menjalar cepat keseluruh daerah pedalaman, dengan seorang tokoh pelopor yaitu Syekh Siti Jenar. Sedangkan di daerah Selatan, Islam disebarkan oleh Sultan Tembayat.

Pada saat ini terdapat tulisan tentang sajak Monolistik Jawa yang dikenal dengan Nitti Sruti. Diadakannya pesta Angka Wiyu. Selain itu, kesusastraan Jawa juga dihayati dan dihidupkan di Jawa Tengah bagian Selatan. Dapat dikatakan bahwa pada masa inilah, kerajaan Pajang mengalami masa kejayaan, sebelum akhirnya kerajaan ini mulai mengalami kemunduran setelah kematian sultan Jaka Tingkir  atau Hadiwijaya (1582 M).

Kedua, Arya Pangiri atau Ngawantipura

Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang selanjutnya yaitu Arya Pangiri. Arya Pangiri adalah raja kedua setelah Jaka Tingkir, Arya Pangiri berasal dari Demak. Ayahnya merupakan raja ke-empat kerajaan Demak yang bernama Sultan Prawoto.  Arya Pangiri adalah raja kedua setelah Jaka Tingkir, Arya Pangiri berasal dari Demak. Ayahnya merupakan raja ke-empat kerajaan Demak yang bernama Sultan Prawoto. Bukan hanya sebagai raja saja, namun ia pernah menjabat sebagai bupati di Demak. Setelah sultan Hadiwijaya wafat, Arya Panggiri kemudian menjadi raja Pajang menggantika sultan Hadiwijaya.

Selama menjabat sebagai sultan di kerajaan Pajang, Arya Panggiri mempunyai gelar sultan Ngawantipura. Dalam pemerintahannya, sultan Arya Panggiri hanya mengutamakan usaha untuk menaklukkan Mataram, dari pada menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Dia melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya), dengan membentuk pasukan yang terdiri atas orang-orang bayaran dari Bugis, Bali, dan makasar untuk menyerbu Mataram pada masa kerajaan Sutawijaya.

Ketidak adilan Arya Pangiri juga berlaku terhadap penduduk asli Pajang. Para pejabat asli Pajang digeser kedudukannya dan digantikan oleh orang-orang Demak, yang mengakibatkan banyak rakyat Pajang yang tersisihkan.

Karena ketidak adilan Raja Arya Panggiri, banyak warga Pajang yang menjadi perampok karena kehilangan mata pencariannya. Ada juga warga yang pindah ke Jipang mengabdi pada Pangeran Benawa. Hingga pada akhirnya, ia berhasil dikalahkan oleh Benawa, yang kemudian akan menjadi sultan kerajaan Pajang. Setelah ia kalah, ia dipulangkan ke Demak.

Ketiga, Pangeran Benawa atau Prabuwijaya

Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang berikutnya, yaitu Prabuwijaya yang merupakan raja ke 3 dari kerajaan pajang. Pangeran Benawa adalah anak kandung dari Sultan Hadiwijaya. Beliau bergelar Sultan Prabuwijaya. Pangeran Benawa adalah anak kandung dari Sultan Hadiwijaya. Beliau bergelar Sultan Prabuwijaya. Sejak kecil, ia sudah dipersaudarakan dengan Sutawijaya yang nantinya akan mendirikan kerajaan Mataram. Pada keturunannya-lah nantinya akan terlahir orang-orang besar dan pujangga-pujanga besar.

Setelah Sultan Prabuwijaya  meninggal pada tahun 1587, kerajaan Pajang menjadi negara yang tunduk sepenuhnya terhadap Mataram. Disebabkan karena tidak adanya pengganti yang cukup cakap untuk memegang kendali pemerintahan Pajang.

Itulah 3 Raja yang Memerintah Kerajaan Pajang, semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.