Diduga Lokasi KKN Desa Penari! 6 Desa dan Hutan Angker ini Banyak Dikunjungi

Diduga Lokasi KKN Desa Penari! 6 Desa dan Hutan Angker ini Banyak Dikunjungi – Tidak lama belakangan ini jagat dunia maya Indonesia dihebohkan dengan cerita horror yang viral melalui akun sosial media. Cerita mistis ini mengangkat sebuah kisah nyata yang dialami 6 orang Mahasiswa KKN di sebuah lokasi angker yang disebut sebagai “Desa Penari”. Tentu nama desa ini bukanlah yang sebenarnya, melainkan disamarkan. Bahkan nama universitas asal mereka menuntut ilmu hingga nama pelaku dalam cerita inipun disamarkan. Tentu dengan alasan keamanan dan nama baik.

Meski semua disamarkan, namun yang Namanya netizen Indonesia pasti mencari cari dimana lokasi sebenarnya dalam cerita tersebut. Selain penasaran, ternyata si penulis cerita ini yaitu akun Twitter @SimpleM81378523 pun sudah memberikan clue clue dan inisial lokasi KKN angker ini. Sebab itulah dalam kesempatan ini kami akan memberi tahukan kepada Anda tentang 6 Desa Sakral dan Hutan Angker yang diduga sebagai lokasi KKN desa Penari. Yuk simak selengkapnya!

6 Desa Sakral dan Hutan Angker Diduga Lokasi KKN Desa Penari

Pertama ; Desa Wonorejo Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi

Lokasi Dusun Wonorejo ini sekitar 65 kilometer dari pusat Kota Blambangan. Lokasinya tepat di lereng Gunung Raung, berbatasan dengan Kabupaten Jember. Desa tersebut berada di dalam perkebunan PTPN XII Jatirono. Jika dalam aplikasi GPS tentu dusun ini tidak terdeteksi. Jalan menuju Dusun Wonorejo tanah berbatu. Untuk menuju dusun tersebut harus melalui akses jalan yang kanan kirinya merupakan kebun kakao dan tebu. Kemudian terdapat tebing yang di bawahnya membentang sawah yang asri.

Menurut para warga, tidak ada hal mistis dan aneh di desanya. Namun netizen tetap saja menduga bahwa dusun inilah yang dijadikan lokasi KKN desa Penari. Bukti yang menguatkan adalah adanya sebuah air terjun. Penduduk sekitar menamakan air terjun kembar Tirto Kemanten karena ada dua aliran air yang sepintas mirip jejeran pengantin lelaki dan perempuan. Daya tarik air terjun ini terletak pada keasriannya, bangunan cukup sederhana, dengan pemandangan alami yang sejuk dan tenang. Menurut salah satu penjaga post, konon air terjun ini ditemukan oleh Mbah Citro Wardoyo yang menjadikan tempat ini sebagai tingkat terakhir dari tujuh air terjun di lereng Gunung Raung jalur Kalibaru.

Kedua ; Alas Purwo Banyuwangi

Alas Purwo berlokasi di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini berada di ujung timur Pulau Jawa, luasnya 43.420 Ha. Beberapa situs menuliskan bahwa jika sekali tersesat di dalamnya, maka dijamin tidak akan pernah bisa keluar lagi. Kalau pun berhasil, maka hidupnya akan penuh sial. Sejak pertama kali Anda menginjakkan kaki di dalam Alas Purwo, selain terpesona oleh indahnya, Anda juga pasti merasakan kengerian yang datangnya entah dari mana.

Menurut penuturan dari warga sekitar, dikuatkan juga oleh pengakuan mereka-mereka yang sering mengunjungi Alas Purwo ini ternyata adalah tempat berkumpulnya jin dan makhluk halus seantero pulau Jawa. Bahkan, banyak ‘orang pintar’ mengakui bahwa Alas Purwo itu berbahaya. Jika sampai salah tingkah dan menyinggung penghuni Alas Purwo, bisa-bisa Anda disesatkan hingga tak bisa kembali lagi.

Ketiga ; Desa Rowo Bayu, Desa Bayu, Banyuwangi

Rowo Bayu berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi menjadi viral lantaran dihubungkan dengan cerita horor ‘KKN di Desa Penari’. Telaga ini bersembunyi di balik rimbunnya hutan di kaki Gunung Raung di sisi Kabupaten Banyuwangi. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya Rowo Bayu. Rowo dalam bahasa Indonesia adalah Rawa, sementara Bayu berarti angin. Danau ini memang menyimpan misteri, tapi bukan cerita horor mahasiswa, melainkan kepingan sejarah Kerajaan Blambangan, sebuah Kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa.

Tempat ini dipercaya sebagai tempat favorit Prabu Tawang Alun memerintah Kerajaan Blambangan untuk berapa dan meditasi. Lokasi meditasi sang Raja berada di pojok kanan sebelah utara dari telaga. Lokasi itu kini dibangun seperti candi, menutupi sebuah batu yang tercetak bekas kaki sang Prabu Tawang Alun selama meditasi. Telaga ini memang sangat rimbun dan menyejukkan. Apalagi ditambah dengan gemericik air dari tiga mata air di sekitar lokasi bangunan meditasi. Yaitu Sumber Kamulyan, Sumber Rahayu dan Sumber Panguripan.

Keempat ; Desa Kemiren Banyuwangi

Kemiren adalah sebuah nama desa di wilayah Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Desa Kemiren adalah sebuah desa wisata, di desa ini terdapat perkampungan asli warga suku Osing. Beberapa tempat wisata yang dapat dikunjungi adalah Makam Buyut Cili, Desa Wisata Osing dan tempat minum kopi di Sanggar Genjah Arum. Di desa ini terdapat sebuah upacara adat yang dinamakan “IDER BUMI”.

Upacara ini ditujukan untuk menghormati danyang penghuni desa kemiren yaitu “Barong tuwek dan Buyut Cili” yang begitu dihormati karena memiliki cerita yang sangat sakral. Buyut Cili memiliki petilasan sebagai bentuk pengingat kepada masyarakat bahwa Buyut Cili benar-benar ada. Mitos dalam upacara ider bumi diyakini oleh masyarakat Desa Kemiren dan menjadi upacara tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal dua hari raya umat Islam.

Wujud mitos dalam upacara ider bumi tidak hanya bentuk cerita mengenai Buyut Cili dan barong tuwek, melainkan wujud mitos pada prosesi ritual dan doa. Mitos yang ada di petilasan Buyut Cili, terdapat mitos pendukung dalam bentuk batu di petilasan. Batu tersebut menandakan bahwa pernah ada raja-raja purba nusantara yang singgah ke Desa Kemiren. Batu di petilasan tersebut menjadi media pendukung prosesi upacara ider bumi.

Kelima ; Desa Widuri Hutan Dadapan, Bondowoso

Perkampungan warga Desa Dadapan terletak pada susunan gang-gang kecil yang terhubung satu sama lain. Namun selain itu, terdapat satu jalan yang cukup besar yang digunakan untuk menuju ke Desa Pondoknongko dan Desa Sukojati. Selain itu, di perbatasan menjelang Desa Kedayunan terdapat banyak perumahan dan sebuah rest area bernama Istana Gandrung.

Namun Hutan Dadapan terletak di daerah Bondowoso yang bukan Banyuwangi, menjadikan prediksi ini agak melenceng. Hal ini karena beberapa cerita di dalam thread tersebut lebih mengarah ke banyuwangi, bukan bondowoso.

Keenam ; Desa Bakungan / Olehsari Kecamatan Glagah

Masyarakat Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur memiliki suatu updacara adat yang sakral, dinamakan Tari Seblang. Masyarakat Using sebagai suku asli Kabupaten Banyuwangi mempercayai Seblang merupakan singkatan dari “Sebele Ilang” atau “sialnya hilang”. Selain di Desa Bakungan, tarian Seblang juga digelar di Desa Oleh Sari yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah.

Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan yang menarikannya. Tari Seblang di Desa Oleh Sari dibawakan oleh perempuan muda dan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di Desa Bakungan, ritual Tari Seblang digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha dan dibawakan oleh penari yang usianya uzur dan dilakukan semalam suntuk di Balai Desa Bakungan.

Entahlah, hal ini benar atau salah yang pasti semua ini hanyalah prediksi yang tidak perlu terlalu dipercaya. Appaun itu, kita tetap harus mengambil sisi poditif dari cerita ini. Dimana Bumi Dipijak, disitu langit dijunjung. Jadi, tetaplah menjunjung rasa hormat dan menghargai di setiap tempat yang kita singgahi.

Demikian semoga bermanfaat. BAROKALLAH.