Sejarah Kisah Joko Tingkir

joko tingkirNama asli dari Joko Tingkir yaitu Mas Karebet. Bapak Joko Tingkir adalah murid Syekh Siti Jenar yang bernama Ki Ageng Pengging. Bapak Joko Tingkir memiliki rekan seseorang dalang yang bernama Ki Ageng Tingkir. Waktu Joko Tingkir dilahirkan, Ki Ageng tengah melakukan pergelaran wayang dengan Ki Ageng Tingkir. Tetapi sesudah pulang dari pertunjukan Ki Ageng Tingkir mendadak jatuh sakit serta wafat. Ki Ageng Pengging pernah dituduh juga sebagai pemberontak Kerajaan Demak hingga dihukum mati oleh Sunan Kudus. Sesudah Ki Ageng wafat, Nyai Ageng Pengging yang disebut ibu Mas Karebet juga wafat sesudah jatuh sakit. Mulai sejak tersebut Mas Karebet diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir (istri Ki Ageng Tingkir). Sepanjang diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir, Mas Karebet tumbuh jadi sosok pemuda yang sangatlah suka pada bertapa.

Asal Mula Panggilan Joko Tingkir

Mas Karebet juga dijuluki Joko Tingkir lantaran dia masih tetap muda jadi anak angkat Nyai Ageng Tingkir. Joko Tingkir juga berguru pada Sunan Kalijaga. Terkecuali pada Sunan Kalijaga, dia sempat juga berguru pada Ki Ageng Sela. Sesudah berguru, Joko Tingkir mau mengabdi ke kerajaan Demak. Disana Joko Tingkir tinggal di suatu rumah Kyai Gandamustaka. Kyai Gandamustaka adalah saudara Nyi Ageng Tingkir sebagai perawat Masjid Agung Demak serta berpangkat lurah ganjur. Lantaran Joko Tingkir pintar menarik simpati Raja Trenggana, pada akhirnya Joko Tingkir diangkat jadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.

Sesudah diangkat jadi kepala prajurit Demak, Joko Tingkir di beri pekerjaan untuk menyeleksi tentara baru yang bakal masuk jadi prajuritnya. Di antara calon tentara baru ada seorang yang bernama Dadungawu yang sangatlah sombong dengan kesaktiannya. Lantas, Joko Tingkir menguji kesaktian Dadungawuk. Tetapi dalam uji kesaktian, Dadungawuk tewas cuma dengan memakai Sadak Kinang. Mengakibatkan tewasnya salah satu calon prajuritnya, Joko Tingkir dipecat Sultan Trenggono dari ketentaraan serta diusir dari Demak.

Sesudah diusir dari Demak, Joko Tingkir berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro yang disebut saudara tua ayahnya. Sesudah tamat berguru, dia kembali pada Demak berbarengan ketiga murid yang lain, yakni Mas Manca, Mas Wila, serta Ki Wuragil. Dalam perjalanan, rombongan Joko Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge dengan memakai rakit. Mendadak nampak siluman buaya yang menyerang mereka. Tetapi dengan kesaktian ke empat murid itu, siluman buaya mampu untuk dikalahkan. Bahkan juga, siluman-siluman itu menolong Joko Tingkir mendorong rakit hingga ke maksud.

Ketika itu, Sultan Trenggono dengan keluarganya tengah melakuakn wisata di Gunung Prawoto. Lantaran Joko Tingkir mau mencari simpati dari Trenggana untuk terima Joko Tingkir kembali di kerajaan Demak, dia melepas seekor kerbau hilang ingatan yang dinamakan Kebo Danu. Kerbau itu di beri mantra oleh Joko Tingkir lewat cara di beri tanah kuburan pada telinga kerbau. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, dimana tak ada prajurit yang dapat hentikan kerbau itu. Mendadak Joko Tingkir nampak serta hadapi kerbau hilang ingatan. Kerbau itu dengan gampang dibunuh ditangan Joko Tingkir. Atas layanan Joko Tingkir, Sultan Trenggono mengangkat kembali Joko Tingkir jadi lurah wiratama.

Joko Tingkir lahir saat Ki Ageng Tingkir, guru Ayahnya (Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo), jadi dalang wayang papar, oleh karena itu Joko Tingkir di sebut Karebet lantaran Wayang Papar yang terbuat dari kertas berbunyi “Kerebet-Kerebet” apabila tertiup anging waktu hujan. Ki Ageng Pengging berguru Pada Syech Siti Jenar, yang mengajarkan rencanaManunggaling kawulo gusti (Wahdatul Sujud) yang dikira melenceng dari ajaran Islam. Ki Ageng Pengging di eksekusi oleh Sunan Kudus atas Perintah Sultan Bintoro (Raden Patah). Teman dekat tunggal Guru Ki Ageng Pengging yaitu Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarup, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Perlu, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Banyu biru, Ki Ageng Nglawean, Ki Ageng Talpitu.

Empat puluh hari lalu, Nyai Ageng Pengging Wafat, serta Karebet di bawa serta di asuh oleh Nyai Ageng Tingkir (yang juga telah Janda) di desa Tingkir, oleh karena itu dikenal juga sebagai Joko Tingkir. Dalam perjalanan ke Demak, Joko tingkir bersua dengan Sunan Kali Jagalah yang meramalnya bahwa Nantinya dianya bakal jadi Raja Besar di Jawa.

Arya Panangsang VS Joko Tingkir,

bukanlah lantaran motif dendam ataupun yang lain, tetapi konflik di sini berlangsung lantaran satu ketidaksamaan pandangan dalam kemaslahatan pengetahuan Ma’rifatillah. Inilah simakannya, berubahnya karakter Arya Panangsang, berawal dari kematian gurunya Panglima Pasopati agung Sunan Kudus, serta mulai sejak itu juga sifatnya sangatlah keras, angkuh serta terasa paling sakti didunia. Hal sejenis ini baginya tak ada lagi Wali yang dapat menuntunnya terkecuali (Alm) gurunya.

Cerita pergantian karakter Arya Panangsang, bikin semua murid Wali yang lain terasa tercengang. Ya siapa yg tidak kenal dengan nama Arya Panangsang, seseorang panglima perang paling tangguh dengan semua kesaktian yang pernah ada, beliau juga seseorang yang sangatlah arif serta bijaksana dalam semuanya, tetapi dengan perubahannya sekarang ini bikin hati beberapa murid yang lain sangatlah terpukul.

Bagaimana tidak, Arya Panangsang senantiasa mengumbar emosinya dengan menantang seluruhnya juara sampai kerap bikin keonaran dimana-mana. Beberapa puluh bahkan juga beberapa ratus juara yang terasa tersinggung atas kesombongannya mesti selesai dengan kematian. Dalam situasi yg tidak menentu, salah satu murid Sunan KaliJaga, yang bernama Joko Tingkir, menghadap gurunya untuk minta ijin manfaat melawan kesombongan Arya Panangsang.

“Wahai Joko Tingkir, janganlah kau sia-siakan hidupmu cuma lantaran Arya Panangsang, sebenarnya orang yang bakal kau hadapi yaitu hamba yang saat ini tengah zadabiyyah (Cuma ingat pada Allah) jika hingga kau menang jadi Allah murka kepadamu serta bila kau kalah, jadi dirimu bakal dilaknat oleh-Nya, lantaran melawan orang yang tengah jatuh cinta pada tuhan-Nya, diamlah sampai satu hari nantinya Allah mengijinkanmu”

Dengan taat Joko Tingkir, segera mengundurkan diri dari hadapan gurunya serta segera bertaubat pada Allah, atas praduga yang kurang baik pada diri Arya Panangsang. Juga Sunan KaliJaga, sesudah kepergian muridnya beliau segera meminta panduan pada Allah, atas perilaku Arya Panangsang, yang dikira telah melampui batas Syar’i serta akidah.

Dalam situasi khusu’ mendadak Sunan Kudus, nampak di hadapannya : “Assalamu alaikum ya Autadulloh” yang segera dibalas oleh Sunan KaliJaga : “Waalaikum salam ya ahlul Jannah”

“Angger KaliJogo, doamu hingga menggetarkan tiang surga serta alamul Arsy, saya mengerti apa sebagai beban dihatimu, tetapi ketahuilah,,,, Allah sudah menggariskan lain di Lauhul-Mahfud, bahwa Arya Panangsang, bakal jadi hamba solehnya dialamul Jannah lantaran mati ditangan muridmu, sesama Waliyulloh. Datangilah istrinya serta rayu dia supaya suaminya ingin dengarkan apa yang kau inginkan”

Kemudian Sunan KaliJaga, segera pergi meninggalkan tempat tinggalnya menuju istri Arya Panangsang yang bernama Retno Kencono Wungu, putri dari Dewi Lanjar, Penguasa Laut Utara. Sesampainya di tempat maksud, nyatanya Arya Panangsang, segera menunggunya : “Wahai Quthbul Autad, saya tahu kau barusan bersua dengan guruku serta merekomendasikan supaya istriku dapat menasehatiku, tetapi ketahuilah!!! saya tak dapat dinasehati olehmu terkecuali dengan kematian”

Dengan sambutan yang kurang mengenakkan hati ini pada akhirnya Sunan KaliJaga, segera undur pamit. Setelah itu beliau tak segera pulang tetapi bersilaturrohmi kerumah istrinya Joko Tingkir, yang bernama Dewi Nawang Wulan Sari, putri dari ibu agung Nawang Wulan, Penguasa Pantai Selatan. Tahu yang datang gurunya, suami istri ini sangatlah bersuka cita serta cepat-cepat menjamunya penuh penghormatan. Sang Sunan juga segera menceritakan perjalanannya mulai sejak bersua dengan Sunan Kudus sampai hingga datang kerumah Arya panangsang.

Riwayat Kisah Jaka Tingkir

Satu hari Ki Ageng Tingkir punya mimpi, di dalam mimpinya Ia memperoleh wangsit agar menuai kelapa muda dari pohon yang ada disamping tempat tinggalnya, di dalam mimpinya Ia disuruh agar meminum habis air dalam kelapa muda itu. Lantaran siapa saja bisa meminum hingga habis dengan cara segera dalam sekali minum, nantinya keturunanya bakal jadi penguasa yang besar. Sesudah bangun dari tidurnya Ki Ageng bergegas menuju pohon kelapa yang ada pada mimpinya. Perasaan heran nampak dalam benaknya, lantaran pohon yang harusnya belum berbuah mendadak nampak satu buah kelapa muda yang cukup besar ukuranya. Lantaran takut ada orang lain yang bakal memetiknya, Ia bergegas memanjat serta menuai kelapa itu.

Ki Ageng bergegas mengupas kelapa muda itu, serta mau meminumnya. Tetapi sesudah sisi atas dari kelapa itu terbuka Ia lihat air kelapa yang cukup banyak. Sesuai sama apa yang diperintahkan dalam mimpinya, hingga Ia berpikiran tidak bisa menggunakan air kelapa itu dalam sekali minum, lantaran waktu itu memanglah masih tetap pagi serta Ia belum rasakan rasa haus. Lantas Ki Ageng berinisiatif untuk menaruh kelapa itu di tempat penyimpanan kayu di atas dapur tempat tinggalnya (pogo). Ia berpikiran bisa menggunakan air kelapa itu dalam sekali minum sesudah dianya kelak melakukan aktivitas sepanjang hari serta rasakan haus.

Waktu Ki Ageng Tingkir menggembalakan kerbaunya, kerabatnya dari Pajang yakni Ki Ageng Pengging bertamu kerumahnya. Nyai Ageng Tingkir yang waktu itu dirumah kebingungan untuk menjamu tamunya itu, lantaran ketika itu belum memasak air untuk disuguhi pada Ki Ageng Pengging yang tampak capek sesudah jauh lakukan perjalanan dari tempat tinggalnya. Dengan cara diam-diam nyatanya Nyai Ageng Tingkir tahu apa yang dikerjakan suaminya tadi pagi, Ia lihat Ki Ageng Tingkir mengupas kelapa serta menyimpan kelapa muda itu di tempat penyimpanan kayu. Ia berpikiran bila Ki Ageng Tingkir sudah tahu bila Ki Ageng Pengging akan tiba kerumahnya, hingga Ia berprasangka Suaminya berniat sudah mempersiapkan kelapa muda itu untuk disuguhi kapada Ki Ageng Pengging.

Lantaran demikian haus sesudah lakukan perjalanan yang sangatlah jauh, Ki Ageng Pengging menggunakan air kelapa muda yang disuguhi Nyi Ageng Tingkir dalam sekali minum. Sore hari Ki Ageng Tingkir pulang dari menggembalakn kerbau-kerbaunya dengan rasa capek serta sangatlah haus. Sesampainya dirumah Ia bergegas mau mengambil kelapa yang disimpanya tadi pagi. tetapi Ia kaget lihat kelapa muda yang Ia taruh tadi telah ada di atas meja dengan keadaan yang kosong tidak ada bekas air kelapa didalamnya. Lantas Ia bertanya pada Istrinya, Nayi Ageng menuturkan bila kelapa muda tadi Ia suguhkan pada Ki Ageng pengging yang barusan bertamu kerumahnya. Lantaran belum demikian lama kepulangan Ki Ageng Pengging dari tempat tinggalnya, Ki Angeng Tingkir bergegas menyusul Ki Ageng Pengging yang tengah dalam pejalanan pulang.

Ki Ageng Tingkir sukses menjumpai Ki Ageng Pengging waktu dalam perjalanan pulang. Ia menuturkan pada Ki Ageng Pengging bila kelapa muda yang diminumnya tadi tidaklah kelapa asal-asalan, tetapi kelapa sebagai wangsit yang Ia bisa dari mimpinya, Ia juga menuturkan bahwa barangsiapa meminum air kalapa tadi, nantinya keturunanya bakal mejadi seseorang yang berkuasa. Oleh karenanya Ki Ageng Tingkir Berpesan pada Ki Ageng Pengging, jika keturunan Ki Ageng Pengging besok jadi seseorang yang berkuasa, Ia meminta agar keturnanya juga diberikan tahta maupun jabatan dalam kerajaan itu. Ki Ageng Pengging menyepakati keinginan Ki Ageng Tingkir itu, lalu Ia meneruskan perjalanan pulang.

Satu hari Ki Ageng Pengging mengadakan wayang Papar. Ia mengundang saudara-saudaranya yakni Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang. Saat malam itu juga Nyai Ageng Pengging yang tengah hamil tua melahirkan anak laki-laki yang tampan parasnya. Sesudah bayi dibikin bersih lantas dipangku oleh Ki Ageng Tingkir, Ia menyampaikan pada Ki Ageng Pengging bila anak ini nantinya bakal besar derajatnya. Serta anak itu dinamakan Mas Karebet oleh Ki Ageng Tingkir, lantaran lahirnya ketika ada pertunjukan wayang Papar.

Selang beberapa saat Ki Ageng Tingkir wafat dunia lantaran sakit. Sepuluh th. lalu Ki Ageng Pengging terserang oleh Sunan Kudus serta pasukan Kesultanan Demak, lantaran dituduh memberontak kesultanan Demak. Disebabkan serangan itu Ki Ageng Pengging tewas. Sesudah kematian suaminya Nyai Ageng Pengging jatuh sakit serta wafat juga. Mulai sejak itu Mas Karebet di asuh serta di ambil jadi anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir. Mas Karebet tumbuh jadi pemuda yang yang pintar serta suka bertapa. Atas panduan dari Ibu angkatnya Lalu Ia berguru pada Ki Ageng Sela. Dari sana Ia jadi orang yang sakti mandraguna serta di kenal dengan nama Jaka Tingkir.

Saat Ki Ageng Sela tengah menyepi, memperoleh wangsit bila Jaka Tingkir nantinya bakal jadi seseorang pemimpin dikerajaan Demak. Lantas Ia memerintahkan Jaka agar pergi ke Kesultanan Demak serta mengabdikan diri jadi prajurit di sana. Saat sebelum pergi menuju Kesultanan Demak Jaka Tingkir berpamitan pada Ibunya Nyai Ageng Tingkir. Ia bercerita pada Ibunya bila Ki Ageng Sela yang memerintahkanya. Nyai Ageng Tingkir merestui kepergian putra angkatnya itu ke Demak. Ia memberitahu bila di Demak Ia memiliki saudara yang bernama Ki Ganjur, Ia meminta Jaka untuk berkunjung di sana. Atas pertolongan Ki Ganjur Jaka Tingkir sukses di terima mengabdi pada Sultan Demak. Kanjeng Sultan sangatlah mengagumi akan pada Jaka Tingkir, karena berparas tampan dan sakti kedigdayaanya. Makin lama Jaka Tingkir diangkat jadi pimpinan prajurit Tamtama yang sangatlah populer di semua Demak. Sultan Demak meminta Jaka Tingkir agar tak memegahkan diri tetapi selalu taat pada perintah Sultan, dan bijaksana di dalam tanggung jawabnya juga sebagai pemimpin Prajurit Tamtama.

Satu hari Sang Prabu berkemauan untuk menaikkan prajurit Tamtama. Jaka Tingkir juga sebagai pemimpin disuruh untuk menyeleksi serta menguji tiap-tiap pemuda yang mau masuk jadi prajurit Tamtama. Waktu itu ada orang dari Kedu Pingit yang bernama Ki Dadung Awuk. Orang itu sangatlah sombong dengan kemampuan serta kesaktianya. Ia datang ke Demak punya niat jadi prajurit Tamtama. Saat di hadapan Jaka Tingkir Dadung Awuk sangatlah sombong, Ia tidak mau diseleksi seperti yang lain, tetapi jadi mau menjajal kesaktian dari Jaka Tingkir. Lantaran terasa disepelekan, Jaka Tingkir sakit hati serta tak dapat menahan emosinya hingga Oleh Jaka Tingkir Ia ditusuk dengan Sadak. Sampai dadanya pecah lantas tewas.

Ketika itu kematian Dadung Awuk dilaporkan pada Sultan. Bila Jaka Tingkir sudah membunuh orang yang bakal masuk jadi prajurit Tamtama. Kanjeng Sultan sangatlah geram, karena Ia yaitu raja yang sangatlah adil. Lalu Jaka Tingkir diusir dari Kesultanan Demak. Jaka Tingkir pergi saat itu juga dari Demak. Beberapa orang yang meliihat sangatlah sedih seluruhnya, rekan-rekan prajurit Tamtama juga menangisinya. Jaka Tingkir lantas mengembara ke rimba serta jalan sampai Gunung Kendeng. Disitu Ia bersua dengan Ki Ageng Perlu. Ki Ageng belum tahu bila Ia Jaka Tingkir atau Mas Karebet putra kandung dari saudaranya Ki Ageng Pengging. Sesudah Ki Ageng membantu Jaka Tingkir yang sangatlah kelelahan. Ia ajukan pertanyaan pada Jaka Tingkir tentang asal-usulnya lantaran Ia lihat Jaka Tingkir memiliki kemiripan dengan saudaranya yang sudah wafat yakni Ki Ageng Pengging. Jaka Tingkir menceritakan bila Ia yaitu anak dari Nyai Ageng Tingkir. Dari situ Ki Ageng kaget serta meyakini bila Jaka Tingkir yaitu Mas Karebet anak dari saudaranya yang bernama Ki Ageng Pengging. yang sepeninggal ke-2 orang tuanya Ia diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir yg tidak lain yaitu Istri dari saudaranya yang bernama Ki Ageng Tingkir.

Jaka Tingkir dirawat dengan sangatlah baik oleh Ki Ageng perlu. Ki Ageng juga mengundang saudaranya yakni Ki Ageng Ngerang yang lalu juga datang ke sana. Sesudah diberitahu bila Jaka Tingkir yaitu anak dari Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Ngerang selekasnya memeluk serta menangis lantaran waktu dahulu mau menengok ke Pengging ia tak bersua denganya lantaran Jaka Tingkir telah dibawa Ibunya ke Tingkir. Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang sangat banyak berikan ajaran pada Jaka Tingkir. Sesudah merampungkan pelajaranya Jaka Tingkir pamit pada Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang untuk kemabali ke Kesultanan Demak. Ia berasumsi lantaran perginya telah cukup lama Sultan pasti bertanya dianya.

Setibanya di Demak Jaka Tingkir bersua dengan rekan sesama Prajurit Tamtama dulu, Ia bertanya apakah Sultan mencari atau bertanya dianya. Tetapi jawab beberapa Tamtama, bahwa Sultan belum pernah bertanya dianya. Mendengar itu Jaka Tingkir sangatlah sedih hatinya. Lantas pamit pada rekan-temanya punya niat untuk mengembara lagi. Di dalam perjalananya Jaka Tingkir memperoleh wangsit agar pergi ke Banyu biru. Setibanya di sana Ia bersua dengan Ki Buyut Banyu Biru serta putra angkatnya yang bernama Mas Manca. Di sana Jaka Tingkir diangkat jadi putra oleh Ki Buyut. Lalu bersaudara dengan Mas Manca.

Sesudah genap enam bln. Jaka Tingkir serta Mas Manca berguru serta memperoleh pengajaran dari Ki Buyut Banyu Biru, Ki Buyut memerintahkan agar Ia selekasnya kembali pada Demak untuk memberikan diri pada Sultan. Ki Buyut juga memberi tuntunan pada Jaka Tingkir, lantaran waktu itu tengah musim penghujan Ki Buyut tahu bila Sultan pasti ada di Istana Gunung Prawata. Terkecuali memrintahkan pada Jaka Tingkir untuk ke sana. Ia juga memberi prasyarat yang dapat bikin Jaka Tingkir disikapi Kanjeng Sultan. Ki Buyut Banyu Biru memberi Jaka Tingkir segenggam tanah Siti Sangar, yang sesampainya di sana agar Ia input ke mulut Kebo Danu, yang nanti kerbau itu bakal mengamuk serta memporak porandakan Istana Prawata.

Ki Buyut Banyu Biru juga menuturkan, tak ada seseorangpun di Demak bisa membunuh kerbau itu. Itu sebagai karena nanti Sultan Demak bakal memanggil Jaka Tingkir untuk membunuh kerbau itu. Lantaran Ia hanya satu orang yang tahu kekurangan dari Kebo Danu itu, yakni dengan keluarkan terlebih dulu tanah Siti Sangar dari mulut kerbau itu. Yang lalu Kebo Danu baru bisa ditaklukan.

Dalam keberangkatan Jaka Tingkir ke Demak, Ki Buyut Banyu Biru memerintahkan Mas Manca serta ke-2 keponakanya yakni Ki Wuragil serta Ki Wila agar temani perjalanan Jaka Tingkir hingga di Demak. Ia juga meminta Jaka Tingkir agar ketiga orang tadi Ia jagalah serta jangan sempat berpisah denganya. Lantaran nantinya ketiga orang tadi bakal menolong dianya jadi seseorang yang berkuasa.

Pagi hari Ki Buyut Banyu Biru serta murid-muridnya lalu membikinkan rakit untuk Jaka Tingkir serta saudara-saudaranya. Sesudah seluruhnya siap lantas Jaka Tingkir serta rombongannya pergi menaiki rakit ikuti aliran sungai Dengkeng menuju Demak. Rupanya waktu itu ada anak buah dari Ki Buyut sebagai mata-mata gerombolan perampok yang sangatlah kuat serta ditakuti beberapa orang di Banyu Biru. Mata-mata itu lalu memberitahu kapada gerombolanya bila rombongan Jaka Tingkir bakal melalui sungai Dengkeng untuk menuju ke Demak.

Sore hari waktu melalui Kedung Srengenge mereka dihadang oleh segerombolan penjahat yang dijuluki Baya lantaran dikira Bebaya atau bahaya untuk beberapa orang yang melalui Kedung Srengenge.

Raja dari Baya itu bernama Bau Reksa serta patihnya Jalu Mampang. Grombolan Baya itu menyerang rombongan Jaka Tingkir hingga berlangsung perang yang sangatlah dahsyat dikedung itu. Dalam pertarungan itu Jaka Tingkir terserang sabetan clurit Jalu Mampang yang bikin dadanya sobek serta membekas suatu sayatan. Tetapi Jaka Tingkir terus melawan dengan bringas hingga selanjutnya Jalu Mampang serta anak buahnya tewas ditangan Jaka Tingkir. Sedang Bau Reksa takluk serta tunduk di hadapan Mas Manca. Bau Reksa serta bekas anak buahnya pada akhirnya diperintahkan Jaka Tingkir untuk menolong mendorong rakit Jaka Tingkir serta rombongan hingga di Demak.

Sesampainya di Istana Prawata, Jaka Tingkir lihat Sultan masih tetap berkunjung di dalam istana. Tanpa ada memikirkan panjang Ia mencari Kebo Danu di sekitar Istana Prawata. Tak perlu saat yang lama Jaka Tingkir memperoleh Kebo Danu serta segera memasukan Tanah Siti Sangar kedalam mulutnya. Kerbau itupun mengamuk serta memporakporandakan Pesanggrahan Prawata. Banyak beberapa orang yang luka serta tewas disebabkan keganasan Kerbau itu.

Mendengar korban yang berjatuhan disebabkan amukan Kebo Danu makin banyak, Sultan meminta Prajurit Tamtama untuk membunuh kerbau itu. Kerbau itu dikeroyok serta ditusuk beragam senjata tetapi tak mempan. Amukan kerbau itu sudah berjalan sampai tiga hari tiga malam belum ada seseorangpun yang sukses menaklukan amukan Kebo Danu. Kerbau itu pada malam hari masuk kehutan lalu siang harinya keluar lagi mengobrak-abrik pesanggrahan serta memangsa beberapa orang di pesanggrahan itu.

Sehari-hari Sultan berlindung di atas panggung pesanggrahan sembari lihat Kebo Danu mengamuk ke sana kemari tidak ada seseorangpun yang berupaya hadapi. Sultan cuma pasrah serta mengharapkan Kebo Danu bakal pergi dengan sendirinya dari pesanggrahan Prawata. Waktu itu Jaka Tingkir tampak jalan melalui depan panggung dengan enjoy seakan-akan tidak perduli dengan situasi yang berlangsung. Sultan yang lihat Jaka Tingkir serta rombongan lalu memanggil abdinya yang bernama Jebad. Lalu menyuruh Jebad agar menjumpai Jaka Tingkir serta meminta Jaka agar menaklukan Kebo Danu. Sesuai sama perintah Sultan jika Jaka Tingkir bisa menaklukan Kebo Danu jadi kekeliruanya bakal diampuni serta bakal di terima kembali di Kesultanan Demak.

Jaka Tingkir saguh dengan perintah Sultan. Lalu Ia meminta pada beberapa orang disitu agar mengepung melingkari Kebo Danu. Termasuk juga Mas Manca, Ki Wuragil serta Ki Wila menolong mengepung kerbau itu. Perkelahian hebatpun berlangsung pada Jaka Tingkir serta Kebo Danu. Sultan yang lihat pertempuran itu menyuruh agar prajuritnya menabuh gong Monggah untuk berikan semangat pada Jaka Tingkir.

Perkelahian pada Jaka Tingkir serta Kebo Danu berjalan cukup lama, beberapa orang yang melihat waktu itu keheran-heranan. Jaka Tingkir yang berkali-kali jatuh serta dilempar keatas lalu di terima dengan tanduk namun masih tetap tampak trengginas walau tubuhya penuh luka. Lalu oleh Jaka Tingkir tanduk dan ekor dari Kebo Danu di tangkap, lantas dihentak. Tanah Siti Sangarpun keluar dari mulutnya, lalu Kebo Danu ditmpeleng sampai remuk kepalanya hingga tewas saat itu juga, bikin mengagumi akan dan senang Sang Sultan serta beberapa orang yang ketika itu menyasikanya.

Sesuai sama janjinya Sultan Demak menganugrahi Jaka Tingkir dengan kembalikan kedudukanya seperti dulu yakni juga sebagai pemimpin prajurit Tamtama Kerajaan Demak.

Jaka Tingkir di hadapan Sultan sangatlah menghormati. Ia taat pada semuanya yang diperintahkan Sultan Trenggana. Sesudah satu tahun lebih mengabdi juga sebagai pemimpin prajurit Tamtama, Jaka Tingkir bisa mengubah kerajaan Demak jadi lebih aman serta tentram hingga bikin pikiran Sultan tenang serta nyaman. Hal semacam itu rupanya menarik simpati Sultan terhadapnya. Oleh Sultan Trenggana, Jaka Tingkir pada akhirnya diangkat jadi Bupati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, yakni Putri Sultan Trenggana.

Di bawah pemerintahan Adiwijaya kabupaten pajang berkembang dengan cepat, banyak kerajaan lain yang mulai tunduk pada kerajaan itu. Sepeninggal Sultan Trenggana, putranya yang bergelar Sunan Prawoto naik takhta, namun lalu tewas dibunuh Arya Penangsang yakni sepupunya di Jipang panolan. Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat, menantu Sultan Trenggana sebagai bupati Jepara.

Lalu Arya Penangsang kirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, namun tidak berhasil. Malah Adiwijaya menjamu beberapa pembunuh itu dengan baik, dan berikan mereka hadiah untuk membuat malu Arya Penangsang. Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat yang disebut adik dari Sunan Prawoto menekan Adiwijaya supaya menumpas Arya Penangsang lantaran cuma ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang itu. Adiwijaya segan memerangi Arya Penangsang dengan cara segera lantaran keduanya sama anggota keluarga Demak. Jadi, Adiwijaya juga mengadakan sayembara. Barangsiapa bisa membunuh Arya Penangsang bakal memperoleh tanah Pati serta Mataram juga sebagai hadiah. Sayembara diikuti ke-2 cucu Ki Ageng Sela, yakni Ki Ageng Pemanahan serta Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani yakni kakak ipar Ki Ageng Pemanahan, Ia sukses membuat siasat cerdik hingga menewaskan Arya Penangsang di pinggir Bengawan Sore.

Sesudah momen itu, Ratu Kalinyamat menyerahkan takhta Demak pada Adiwijaya. Pusat kerajaan itu lalu dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya juga sebagai sultan pertama. Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca jadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedang Mas Wila serta Ki Wuragil jadikan menteri berpangkat ngabehi. Sesuai sama kesepakatan sayembara, Ki Panjawi memperoleh tanah Pati serta bergelar Ki Ageng Pati. Disamping itu, Ki Ageng Pemanahan masih tetap menanti lantaran seakan-akan Sultan Adiwijaya tunda penyerahan tanah Mataram.

Th. untuk th. kesepakatan teratasi, tanah Mataram masih tetap ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga sebagai guru tampak juga sebagai penengah ke-2 muridnya itu. Nyatanya, argumen penundaan hadiah yaitu karena rasa kuatir Adiwijaya saat mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram bakal lahir suatu kerajaan yang dapat menaklukkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya waktu ia dilantik jadi sultan selesai kematian Arya Penangsang.

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya supaya menepati janji lantaran juga sebagai raja ia yaitu contoh rakyat. Demikian sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga harus bersumpah setia pada Pajang. Ki Ageng bersedia. Jadi, Adiwijaya juga ikhlas menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu. Tanah Mataram yaitu sisa kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang waktu itu telah tertutup rimba bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk juga Ki Juru Martani, buka rimba itu jadi desa Mataram. Walau cuma suatu desa tetapi berbentuk perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang lalu bergelar Ki Ageng Mataram, cuma harus menghadap ke Pajang dengan cara teratur juga sebagai bukti kesetiaan.

Sunan Prapen untuk pertama kalinya bersua dengan Ki Ageng Pemanahan serta untuk ke-2 kalinya meramalkan bahwa Pajang bakal dikalahkan Mataram lewat keturunan Ki Ageng itu. Mendengar ramalan itu, Adiwijaya tak akan terasa kuatir lantaran ia menyerahkan seluruhnya pada kehendak takdir. Sutawijaya yaitu putra Ki Ageng Pemanahan yang juga jadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya yakni Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya jadi penguasa baru di Mataram, serta di beri hak tidak untuk menghadap sepanjang satu tahun penuh.

Saat satu tahun berlalu serta Sutawijaya tak datang menghadap. Adiwijaya kirim Ngabehi Wilamarta serta Ngabehi Wuragil untuk bertanya kesetiaan Mataram. Mereka temukan Sutawijaya berlaku kurang sopan serta berkesan mau memberontak. Tetapi ke-2 petinggi senior itu pintar menentramkan hati Adiwijaya lewat laporan mereka yang di sampaikan dengan cara halus. Th. untuk th. berlalu. Adiwijaya mendengar perkembangan Mataram makin cepat. Ia juga kembali kirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kesempatan ini yang pergi yaitu Pangeran Benawa yang disebut putra mahkota, Arya Pamalad yang disebut adipati Tuban, dan Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya.

Sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya. Disuatu hari seseorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati lantaran berani menyusup ke keputrian menjumpai Ratu Sekar Kedaton yang disebut putri bungsu Adiwijaya. Bapak Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang lantaran disangka turut menolong anaknya.

Ibu Raden Pabelan yang disebut adik wanita Sutawijaya meminta pertolongan ke Mataram. Sutawijaya juga kirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang. Perbuatan Sutawijaya itu jadi argumen Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang pada ke-2 pihak juga meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah semakin banyak, tetapi menanggung derita kekalahan. Adiwijaya makin tergoncang mendengar Gunung Merapi mendadak meletus serta laharnya turut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung itu.

Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia berkunjung ke makam Sunan Tembayat tetapi tak dapat buka pintu gerbangnya. Hal semacam itu dia anggap juga sebagai firasat bila ajalnya selekasnya tiba. Adiwijaya meneruskan perjalanan pulang. Di dalam jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, hingga mesti diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, bikin sakitnya jadi tambah kronis.

Adiwijaya berwasiat agar anak-anak serta menantunya janganlah ada yang membenci Sutawijaya, lantaran perang pada Pajang serta Mataram diyakininya juga sebagai takdir. Diluar itu, Sutawijaya sendiri yaitu anak angkat Adiwijaya yang dia anggap juga sebagai putra tertua. Adiwijaya dengan kata lain Jaka Tingkir pada akhirnya wafat dunia. Ia dimakamkan di desa Perlu, yakni kampung halaman ibu kandungnya.

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!