Rahasia Kedigdayaan Joko Tingkir

images

Rahasia Kedigdayaan Joko Tingkir,  Siapa yang tidak mengenal Joko Tingkir (Mas Karebet)? Sebutan lain dari Raja Pajang Hadiwijaya ini sudah lumayan terkenal namanya di Indonesia. Keampuhan atau kedigadayaan Joko Tingkir tidak di ragukan lagi, ini di buktikan dengan beberapa wilayah yang sudah di taklukkan.

images

Putra dari Kebo Kenanga dan Ki Ageng Pengging ini memang dari dulu mempunyai jiwa Ksatria, dimana beliau senang sekali dengan tirakat bertapa. Konon niat beliau melakukan hal tersebut hanyalah untuk menjaga diri dari berbagai ancaman negatif, Termasuk ancaman dari penyakit (menjaga diri agar tetap sehat), menjaga dari anacaman energi negatif yang dikirim oleh musuh. Maklum ketika pada masa itu memang gencar sekali orang bermain dengan yang namanya kekuatan gaib. Hal ini terbukti dengan adanya petilasan-petilasan tempat bertapanya bagi para pelaku ilmu sihir. Selain itu juga ada bukti-bukti peninggalan buku-buku mantra sihir dan pelet. Maka tidak kaget jika dalam sejarah menceritakan banyak wanita cantik yang menyukai Mas Karebet ini.

Lalu, apa yang menjadi rahasia kedigdayaan Joko Tingkir?

Menurut sejarah Joko Tingkir gear sekali bertapa, dari bertapa itu beliau bisa menyelaraskan tubuhnya dengan alam. Dengan hal ini Joko Tingkir mampu beradaptasi dengan keadaan alam dalam berbagai situasi dan kondisi apapaun. Selain melakukan pertapaan dengan hasil menyelaraskan diri dengan alam Joko Tingkir juga mendapatkan manfaat lain, yaitu mampu menarik pusaka ampuh. Konon beliau mempunyai banyak pusaka ampuh. Oleh sebab itu Joko Tingkir terkenal sangat ampuh sehingga berwibawa dan sejarah membuktikan bahwa beliau mampu menaklukkan berbagai wilayah sehingga mampu di kuasainya.

Joko Tingkir Dan Silsilahnya

????????????????????????????????????

JokoTingkir Dan SilsilahnyaJaka Tingkir adalah seorang putera dari Kebo Kenanga dan cucu Adipati Andayaningrat. Adipati Andayaningrat juga dikenal sebagai ‘Syarief Muhammad Kebungsuan’. Secara silsilah, dapat dijelaskan sesuai bagan di bawah ini :

ghhgg

Joko tingkir dengan nama asli Mas Karebet, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga dengan Nyi Ageng Pengging. Sejarah mencatat, nasab dari Adipati Andayaningrat atau Syarief Muhammad Kebungsuan atau yang dikenal juga sebagai Ki Ageng Wuking I adalah sebagai berikut :

Nabi Muhammad SAW → Sayyidah Fathimah Az-Zahra → Al-Imam Sayyidina Hussain → Al-Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin → Al-Imam Muhammad Al Baqir → Al-Imam Ja’far As-Sodiq → Al-Imam Al-Imam Ali Uradhi .→ Al-Imam Muhammad An-Naqib .→ Al-Imam ‘Isa Naqib Ar-Rumi → Al-Imam Ahmad al-Muhajir → Al-Imam ‘Ubaidillah → Al-Imam Alawi Awwal → Al-Imam Muhammad Sohibus Saumi’ah → Al-Imam Alawi Ats-Tsani → Al-Imam Ali Kholi’ Qosim → Al-Imam Muhammad Sohib Mirbath → Al-Imam ‘Alawi Ammil Faqih → Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan → Sayyid Abdullah Azmatkhan → As-Sayyid Ahmad Shah Jalal → As-Sayyid Asy-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini/ Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini .→ Syarief Muhammad Kebungsuan /ADIPATI  ANDAYANINGRAT /  Ki Ageng Wuking I  → Ki Ageng Pengging → Hadiwijaya

Dari nasab diatas dketahui bahwa Joko Tingkir adalah keturunan ke – 23 dari Nabi Muhammad SAW. Joko Tingkir yang begitu terkenal sepak terjangnya dalam dunia kepemimpinan, membawa negeri ini menuju masa depan yang baik. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa karisma kepemimpinan Mas Karebet sungguh luar biasa. Keberaniannya dan sikap bijaksanannya patut kita tiru. Ketokohan seperti Joko Tingkir saat ini memang jarang sekali kita jumpai, bahkan hampir pasti tidak ada.

Dimulai dari pengabdiannya terhadap wilayah demak, hingga menjadi Raja di kerajaan Pajang. Pada akhirnya Joko Tingkir juga mampu menguasai wilayah Jawa Timur. Sampai akhir hayatnya Hadiwijaya alias Joko Tingkir yang meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Kisah Jaka Tingkir, Pernah Menjadi Raja di Kerajaan Pajang

petilasan kerajaan pajangKisah Jaka Tingkir, Pernah Menjadi Raja di Kerajaan Pajang – Semula berdirinya Kerajaan Pajang, dimulai oleh pertempuran pada Aryo Penangsang dengan Joko Tingkir (Adipati Pajang), yang disebut menantu Sultan Trenggono. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh Joko Tingkir. Kemenangan ini dapat atas pertolongan dari Ki Ageng Pemanahan serta Ki Ageng Penjawi. Kemenangan ini bikin Joko Tingkir memimpin Demak dengan gelar Sultan Hadiwijaya, gelar itu didapat dari Sunan Giri serta memperoleh pernyataan dari kerajaan-kerajaan sebagai bawahan Demak.

Sultan Hadiwijaya lalu memindahkan pusat kerajaan dari Demak menuju Kerajaan Pajang. Dengan hal tersebut resmilah telah Kerajaan Pajang. Atas jasa-jasa Ki Ageng Pemanahan serta Ki Ageng Penjawi, keduanya di beri hadiah berbentuk tanah diwilayah Mataram untuk Ki Ageng Pemanahan serta tanah didaerah Pati untuk Ki Ageng Penjawi. Serta beliau berdua diangkat jadi adipati diwilayah itu.

Kepimpinan Sultan Hadiwijaya berjalan dengan baik. Jalinan dengan kerajaan bawahan juga baik. Kesenian serta sastra alami perubahan yang cepat. Dampak budaya Islampun makin menebar sampai ke pelosok daerah.

Walau demikian seluruhnya berjalan dengan cepat. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan pada 1575, jadi pemerintahan di Mataram, diteruskan ke putranya yang bernama Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar. Dalam kepemimpinan Sutawijaya, Mataram berkembang dengan cepat. Hal semacam ini yang lalu bikin Sutawijaya malas untuk menghadap ke Pajang.

Pada th. 1582 meletus perang Pajang serta Mataram lantaran Sutawijaya membela adik iparnya, yakni Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram walau pasukan Pajang jumlahnya semakin besar. Sepulang dari perang, Hadiwijaya jatuh sakit serta wafat dunia. Berlangsung persaingan pada putra serta menantunya, yakni Pangeran Benawa serta Arya Pangiri juga sebagai raja setelah itu. Arya Pangiri di dukung Panembahan Kudus sukses naik takhta th. 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri cuma disibukkan dengan usaha balas dendam pada Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terlewatkan. Hal semacam itu bikin Pangeran Benawa yang telah tersingkir ke Jipang, terasa prihatin. Pada th. 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Walau pada th. 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa terus menganggapnya juga sebagai saudara tua.

Perang pada Pajang melawan Mataram serta Jipang selesai dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri aslinya yakni Demak. Pangeran Benawa lalu jadi raja Pajang yang ketiga. Pemerintahan Pangeran Benawa selesai th. 1587. Tak ada putra mahkota yang menggantikannya hingga Pajang juga jadikan juga sebagai negeri bawahan Mataram, yaitu sebagai bupati disana adalah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya. Untuk melihat Peninggalan Pusaka Jaka Tingkir, anda bisa mengunjungi di BendaGhaib.Com.

Awal Mula Jaka Tingkir Mengabdi Di Kerajaan Demak

joko tingkir 2

joko tingkir 2Awal Mula Jaka Tingkir Mengabdi Di Kerajaan Demak – Inilah masa mulainya Jaka Tingkir Mengabdi di Demak Kota Wali – Setelah beranjak Dewasa, Dia (Mas Karebet) dibawa oleh oleh seorang janda dari Ki Ageng Tingkir. Disana ia sangat dimanja dan disayangi, dituruti semua apa yang dia inginkan. Lantaran janda Ki Ageng sangatlah kaya-raya, terhormat diantara tetangga desa, Mas Karebet lantas populer dengan sebutan Jaka Tingkir. Tindak-tanduknya tidak sama dengan anak-anak lain. Ia suka menyepikan diri di gunung, di rimba, atau di gua-gua hingga sepuluh malam atau 1/2 bln.. Kemauannya tidak bisa dihindari serta dihalangi. Disuatu hari Jaka Tingkir pulang lantas dipeluk oleh ibunya dan diberitahu, “Nak, anda janganlah sukai ke gunung-gunung. Ketahuilah bahwa orang yang sukai bertapa di rimba serta di gunung itu masih tetap kafir, belum berpedoman agama Kanjeng Nabi. Tambah baik anda berguru pada mukmin. ”

Ki Jaka lantas pamit bakal berguru pada seseorang mukmin. Ibunya merelakan. Ki Jaka pergi sendirian ke utara, ke timur hingga di Sela, untuk berguru pada Ki Ageng Sela. Ki Ageng sangatlah suka lihat Ki Jaka Tingkir. Ia lantas diangkat jadi cucunya, sangatlah dimanjakan hidupnya. Disana Ki Jaka suka mendalang sampai populer kepandaiannya mendalang. Ki Ageng Sela makin bertambah sayangnya. Mereka tak pernah berpisah. Bila Ki Ageng tengah menyepi, Ki Jaka juga di ajak.

Sesungguhnya Ki Ageng Sela tengah menyepi. Didalam batinnya besar sekali permintaannya ke Allah mudah-mudahan nantinya bisa turunkan beberapa raja yang kuasai tanah Jawa. Ia terasa masih tetap kerabat keturunan Raja Brawijaya di Majapahit. Saat itu Ki Ageng Sela telah tujuh hari tujuh malam tinggal di gubuk di ladang yang baru di buka, terdapat di samping timur Tarub yang dimaksud rimba di Renceh. Satu malam Ki Ageng tidur di situ. Jaka Tingkir tidur dibawah. Ki Ageng punya mimpi ke rimba membawa kapak bakal membabat rimba. Terlihat dalam mimpinya Ki Jaka Tingkir telah ada disana, serta semua pohon telah rubuh, ditarik oleh Ki Jaka Tingkir. Didalam mimpinya Ki Ageng heran sekali serta terbangun dari tidurnya. Jaka Tingkir masih tetap tidur dibawah, lantas dibangunkan. Ki Ageng ajukan pertanyaan, “Nak, sepanjang saya tidur apakah anda tak pergi-pergi? ” Jawab Ki Jaka, “Tidak. ”

Saat Ki Ageng Sela mendengar jawaban cucunya, sangatlah menyesal mengapa seluruhnya hanya mimpi. Bicara dalam batin, “Menyesal benar saya. Besar permintaanku pada Allah, serta sampai kini saya belum pernah memperoleh firasat sekian. ” Anak yg tidak memohon kepada-Nya ini jadi di beri firasat seperti itu. Ki Ageng lantas ajukan pertanyaan pada Ki Jaka Tingkir, “Nak, seingatmu dahulu pernah punya mimpi apa? ” Ki Jaka menjawab dengan cara terus-terang, “Ketika saya tengah tirakat di Gunung Telamaya, di situ saat malam saya tidur serta punya mimpi kejatuhan bln.. Saat itu juga Gunung Telamaya ada nada menggelegar. Saya lantas terbangun, mimpi itu arti apa? ” Ki Ageng yang mendengar narasi cucunya itu makin heran. Dalam batinnya apabila tak takut pada Allah, Ki Jaka bakal di buat celaka. Namun Ki Ageng sadar bila kodrat Allah tidak bisa tidak diterima oleh manusia.

Ki Ageng Sela berkata, “Nak, tak perlu ajukan pertanyaan apa arti impianmu. Itu bagus sekali, itu raja semua yang dimimpikan. Mengenai saran saya kepadamu, saat ini mengabdilah ke Demak. Itu bakal jadi perantaraan untuk bersua arti dari mimpimu. Saya menolong dalam doa saja. ” Ki Jaka Tingkir menjawab, “Saya bersedia melakukan perintah Eyang. Saya junjung tinggi selamanya. ” Ki Ageng berkata lagi, “Iya, Nak, saya bakal kurangi makan serta tidur. Mudah-mudahan anda bisa menemukannya. Namun Nak, mudah-mudahan anak-turunmu nantinya bisa jadi penerus wahyumu. ” Ki Jaka mengiyakan saja. Sesudah Ki Ageng Sela mendengar jawaban Ki Jaka itu sangat lega hatinya, panjang-lebar ajarannya pada Ki Jaka.

Ki Jaka Tingkir lantas pergi. Dalam perjalanannya ia singgah ke Tingkir, memberi tahu ibunya perintah Ki Ageng Sela. Ibunya berkata, “Nak, panduan Ki Ageng Sela itu benar sekali, jadi ada suatu hal yang diinginkan. Selekasnya kerjakan, namun tunggu dua orang pembantu saya. Baru saya suruh bersihkan rumput tanaman padi gaga. Mereka bakal saya suruh mengantarkan anda. Saya mempunyai saudara laki-laki sebagai abdi di Demak, namanya Kyai Ganjur jadi Lurah Suranata. Kepadanya anda kutitipkan serta menghadapkan pada sang raja. ”

Ki Jaka Tingkir menurut perintah ibunya. Lantas mereka pergi ke ladang menolong ke-2 pembantu itu menyiangi rumput. Hingga satu hari tak pulang-pulang. Sesudah saat Asar datanglah mendung serta hujan gerimis. Sunan Kalijaga tengah ada dekat ladang itu bertongkat cis. Ki Jaka Tingkir di panggil dari luar padang padi gaga itu. tuturnya, “Nak, anda itu senantiasa bersihkan tanaman padi gaga saja. Berhenti, cepatlah mengabdi ke Demak karena anda itu calon raja yang kuasai tanah Jawa. ” Usai berkata, Sunan Kalijaga lantas pergi ke utara. Sesudah telah tidak terlihat Ki Jaka pulang menceritakan pengalaman itu pada ibunya.

Mendengar itu ibunya sangat senang, dan berkata, “Nak, anda itu mujur sekali memperoleh panduan dari Sunan Kalijaga. Selekasnya berangkatlah ke Demak, janganlah menunggu-nunggu ke ladang gaga lagi. Bekasnya saya gotong-royongkan saja. ” Ki Jaka lantas pergi dibarengi dua orang pembantunya. Setelah tiba di Demak, berkunjung dirumah Kyai Ganjur.

Sultan Bintara telah tiba waktunya di panggil Tuhan. Ia meninggalkan enam putra. Nomer satu putri bernama Ratu Mas, telah bertemumi dengan Pangeran Cirebon. Nomer dua Pangeran Sabrang Lor yang menukar Raja. Lantas Pangeran Seda Lepen, Raden Trenggana, Raden Kandhuruhan. Bungsunya bernama Raden Pamekas. Pengganti raja itu tak lama. Ia mangkat belum berputra. Raja digantikan oleh Raden Trenggana serta bergelar Sultan Demak. Patih Mangkurat juga telah wafat, yang menukar patih yaitu anak laki-lakinya yang bernama Patih Wanasala. Kebijaksanaannya melebihi ayahnya. Beberapa bupati dibawah seluruhnya segan serta sayang.

Raden Jaka Tingkir telah di terima mengabdi pada Sultan Demak. Diterimanya pengabdiannya itu berawal dari satu momen. Waktu itu Sultan Demak keluar dari masjid, Ki Jaka baru duduk di tepi blumbang, kolam. ingin menyingkir tak dapat, karena terhambat oleh blumbang itu. Ki Jaka lantas melompati kolam itu dengan gerakan membelakang. Saat melihat itu Sultan Demak sangatlah terperanjat. Lantas ditegur. Ki Jaka menjawab bahwa dianya yaitu keponakan Kyai ganjur. Ki Jaka lantas dihadapkan serta diangkat jadi abdi.

Kanjeng Sultan sangatlah sayang pada Ki Jaka Tingkir, karena rupanya tampan dan sakti kedigdayaannya. Makin lama Ki Jaka Tingkir diangkat jadi putranya, di beri wewenang keluar-masuk istana dan jadikan pimpinan prajurit tamtama, populer di semua kerajaan Demak. Selang beberapa saat lagi Sang Prabu mempunyai kemauan menaikkan prajurit tamtama lagi beberapa empat ratus orang. Sang Prabu mengambil serta pilih beberapa orang dari semua negeri serta pedusunan, diambil orang yang sakti serta kuat. bila telah diperoleh lantas diuji serta diadu dengan banteng. Bila dapat melekateng banteng sampai remuk kepalanya, di terima jadi prajurit tamtama.

Alkisah, ada orang dari Kedu Pingit, namanya Ki Dhadhung Awuk. Rupanya buruk, sangatlah sombong dengan kekuatannya. Ia datang ke Demak punya niat jadi prajurit tamtama. Sesudah dihadapkan Ki Jaka Tingkir, lantas di panggil. Sesudah lihat tampangnya Jaka Tingkir sangatlah tak sukai, karena rupanya sangatlah tak mengasyikkan. Lantas di tanya, berhubung di kampungnya telah populer kuatnya, beranikah dicoba untuk ditusuk? Jawabannya ya berani? Dhadhung Awuk lantas ditusuk dengan sadak kinang (alat untuk makan sirih). Dadanya pecah, lantas tewas. Rekan-rekan tamtama diminta menusuki dengan keris. Mayat Dhadhung Awuk lukanya sangat kronis.

Raden Jaka Tingkir kesaktiannya makin termasyhur. Ketika itu, kematian Dhadhung Awuk dilaporkan pada Sultan. Jaka Tingkir sudah membunuh orang yang ingin masuk jadi prajurit tamtama. Kanjeng Sultan sangatlah geram, karena ia yaitu raja yang sangatlah adil. Raden Jaka Tingkir lantas diusir dari Demak. Raja berikan duit duka pada pakar warisnya yang wafat sebesar lima ratus reyal.

Mengenai Raden Jaka Tingkir lantas pergi saat itu juga dari Demak. Siapapun yang lihat sangatlah kasihan seluruhnya, rekan-rekan prajurit tamtama juga menangisinya. Raden Jaka Tingkir sangatlah menyesal dengan tindakannya yang telah berlangsung serta begitui malu lihat beberapa orang Demak. Tubuhnya tidak berdaya. dalam hatinya sangatlah suka bila selekasnya mati saja. Maksud perjalanannya ke arah tenggara masuk ke rimba besar, tak terang yang dituju lantaran sangatlah bingung hatinya.

Jaka Tingkir dan Pusaka Andalan Keris Kyai Setan Kober

keris setan kober

keris setan koberJaka Tingkir dan Pusaka Andalan Keris Kyai Setan Kober – Keris Kyai Setan Kober – merupakan sebuah pusaka Jaka Tingkir yang berwujud keris yang diciptakan oleh empu jawa asal dari jawa barat. Keris yang terkenal sakti ini adalah warisan pusaka dari Sunan Kudus untuk Jaka Tingkir. Pusakan tersebut belum pernah terkalahkan dan belum pernah tertandingi oleh siapapun semenjak di pegang oleh jaka tingkir. keris yang ditujukan untuk dipunyai oleh seseorang pemimpin daerah juga sebagai fasilitas tolak bala, serta mengamankan wilayahnya dari ada masalah mahluk halus maupun serangan gaib.

Keris kyai setan kober yang berwatak keras, berhawa panas serta angker menakutkan, bikin merinding siapa saja yang melihatnya. Masalah kegagalan Arya Penangsang itu juga bikin Sunan Kudus jadi cemas serta kuatir. Bagaimanakah bila Jaka Tingkir datang untuk menuntut balas? Siapa yang dapat hadapi? Sunan Kudus tidak mengerti begitu tinggi pengetahuan kanuragan yang dipunyai Adipati Adiwijaya itu hingga keris Kyai Setan Kober juga tak dapat melukai badannya sedikitpun. Arya Penangsang menekan Sunan Kudus supaya di beri ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang, lantaran telah kepalang basah. Dari pada terserang duluan oleh Pajang, tambah baik menyerang duluan.

Tetapi Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih tetap mempunyai satu langkah lagi, masih tetap ada satu siasat untuk memancing Adipati Adiwijaya keluar untuk dimusnahkan semua pengetahuan kanuragan yang dipunyainya, supaya makin gampang membunuhnya. Siasat dikerjakan. Sunan Kudus dengan didampingi Sunan Bonang, mengundang Jaka Tingkir untuk dipertemukan dengan Arya Penangsang untuk usaha perdamaian. Tempat serta waktunya telah mereka atur. Sunan Kudus telah mempersiapkan 2 tempat duduk dari batu. Sunan Kudus mewanti-wanti agar Arya Penangsang tak duduk di batu di samping kanannya, lantaran batu itu batu keramat, berniat di ambil dari suatu candi serta bakal melunturkan kesaktian siapa saja yang duduk di atasnya. Batu itu disiapkan untuk Jaka Tingkir agar seluruhnya pengetahuan kesaktiannya luntur.

Namun ketika datang ke tempat pertemuan itu, Jaka Tingkir sudah tahu melalui rasa batinnya bahwa batu yang bakal didudukinya memiliki kandungan satu daya gaib negatif yang kuat. Sekalipun kegaiban batu itu masih tetap belum cukup kuat untuk punya pengaruh kepadanya, namun ia tidak ingin demikian saja termakan kelicikan mereka. Jaka Tingkir menampik untuk duduk sekalipun berulang-kali dipersilakan duduk, hingga Arya Penangsang juga menghinanya lantaran dikira takut duduk di batu itu. ” Silahkan saja anda yang duduk disitu bila berani! “, demikian kata Jaka Tingkir pada Arya Penangsang. Lantaran malu hati termakan oleh omongannya sendiri, pada akhirnya dengan menutup-nutupi kekhawatirannya, Arya Penangsang geser duduk di batu itu. Sebentar duduk di batu itu merasa oleh Arya Penangsang bahwa ada daya dingin yang mengalir masuk ke badannya serta merasa kekuatannya melemah, terhisap hilang ke batu itu.

Kegaiban batu itu sudah bekerja kepadanya. Beberapa Sunan juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi lantaran terlanjur telah berlangsung. Jaka Tingkir datang penuhi undangan itu dengan membawa keris Kyai Setan Kober sitaannya. Dihadapan Arya Penangsang serta Sunan Bonang, Jaka Tingkir menyerahkan keris itu pada Sunan Kudus, juga sebagai bukti perbuatan jahat Arya Penangsang kepadanya. Lalu sembari mengatakan banyak saran, Sunan Kudus menyerahkan keris itu kembali pada Arya Penangsang. Namun Arya Penangsang yaitu seseorang yang tinggi hati. Telah terlanjur malu, ia tidak ingin demikian saja terima dianya dipersalahkan. Sembari menghunus Setan Kober kerisnya ia menantang perang pada Jaka Tingkir. ” Perselisihan mesti dikerjakan dengan cara laki-laki! “, demikian tuturnya. ” Bila saya sendiri yang menusukkan keris ini ke badanmu, belum pasti anda masih tetap bakal dapat sombong “. Dengan cara refleks Jaka Tingkir juga mencabut kerisnya, berdiri siap bertarung dengan kerisnya di tangan kanannya.

Namun Sunan Kudus serta Sunan Bonang cepat-cepat melerai mereka serta memerintahkan Arya Penangsang menyarungkan kembali kerisnya. Pada akhirnya mereka semasing pulang dengan tak ada perdamaian diantara mereka. Untunglah ketika itu Arya Penangsang ingin menyarungkan kerisnya. Bila tak, pastilah telah tamat riwayatnya. Kesaktian Jaka Tingkir masih tetap terlampau tinggi. Kesiuran pancaran udara daya kesaktiannya merasa sekali saat ia refleks mencabut kerisnya serta siap bertarung dengan keris di tangan kanannya. Bila hingga berlangsung pertarungan, seluruhnya yang ada disitu tak ada yang dapat menahannya. Terlebih nyatanya keris yang ada di tangan Jaka Tingkir yaitu Kyai Sengkelat, keris yang tambah lebih sakti dibanding Kyai Setan Kober serta seluruhnya pusaka yang ada di Demak waktu itu. Berbarengan keris Kyai Sengkelat di tangan Jaka Tingkir, yang tak tahu darimana didapatkannya, sudah jadikan Jaka Tingkir seseorang yang tentukan tanding.

Kombinasi wahyu keris yang sudah menyatu dengan pribadi Jaka Tingkir sudah jadikan efektivitas wahyu keilmuan serta wahyu spiritual yang sudah ada pada dianya berlipat ganda ganda pengaruhnya. Jaka Tingkir dipenuhi dengan ilham untuk memperdalam, juga untuk membuat ilmu-ilmu baru. Ditambah lagi ia juga mewarisi ilmu-ilmu tua masa Singasari serta Majapahit. Saat sudah masak usianya Jaka Tingkir jadi salah seseorang manusia sakti yang susah sekali di cari tandingannya. Keris Kyai Sengkelat sudah temukan pasangannya, seseorang manusia berpribadi ksatria serta berbudi pekerti tinggi yang searah dengan pribadi wahyu keris itu, yang juga mempunyai wahyu raja didalam dianya, sesuai sama perkenan Dewa. Sesudah peristiwa itu Sunan Kudus memerintahkan Arya Penangsang untuk bertapa serta berpuasa 40 hari untuk memulihkan kembali kesaktiannya serta untuk ditambahkan dengan ilmu-ilmu baru yang lebih tinggi lagi.

Mengungkap Misteri Makam Kembar Jaka Tingkir

Makam Jaka Tingkir dr luar

makam mbah jaka tingkirMengungkap Misteri Makam Kembar Jaka Tingkir – Kali ini kami akan mengajak anda untuk Mengungkap Misteri Makam Kembar Jaka Tingkir. Pada Tahun 1582 Masehi ada dua kerajaan besar, Pajang serta Mataram, itu bersua di lokasi Prambanan. Diatas kuda coklat kesayangannya, Sutawijaya dengan kata lain Panembahan Senopati merangsak, memimpin beberapa ribu prajuritnya hadapi pasukan Pajang. Sesaat di dalam pasukan Pajang yang mulai kocar-kacir, Sultan Hadiwijaya berupaya kuasai situasi. Gajah tungganggannya tidak lagi gesit, lantaran penuh luka. Hadiwijaya dengan kata lain Joko Tingkir selalu berupaya menumbuhkan semangat prajuritnya. Baginya, ini memanglah perang yang melelahkan. Sesudah berhari-hari menembus belukar dari Pajang, untuk menyerbu Mataram di Kota Gede, pasukannya malah dihadang waktu melewati lokasi Prambanan.

Hadiwijaya tahu, ajalnya telah dekat. Berarti, sebentar lagi kerajaanya yang di bangun dengan sulit payah juga bakal roboh. Namun anak putra putra Ki Ageng Pengging ini tidak bakal menyerah. Walau yang dihadapi dalam perang ini yaitu anak angkatnya sendiri ; Sutawijaya. Ia paham, tidak bakal lama lagi ramalan Sunan Prapen bakal berlangsung : Mataram bakal menghancurkan Pajang! Namun mungkin ini memanglah kelirunya sendiri. Telah sepantasnya Sutawijaya geram, lantaran ia sudah membunuh Pangeran Pabelan, sekalian buang ayahnya, Tumenggung Mayang, yang tidak lain adik ipar Sutawijaya, ke Semarang. “Tapi apakah saya seutuhnya salah? Tidakkah Pabelan yang mengawali seluruhnya perkara iuni, lantaran berani menyusup ke keputren serta memadu asmara dengan putriku, sekar kedaton? ” Hadiwijaya coba membela diri.

Namun seluruhnya saat ini telah berlangsung. Perang selalu berkecamuk, serta pasukan Pajang, walau jumlahnya 2 x lipat dari pasukan Mataram, makin tertekan. Sultan Hadiwijaya tidak dapat lagi menghidupkan semangat pasukannya. Suatu tombak yang meluncur deras pas di perut gajah yang ditungganginya, bikin sisa senopati Kerajaan Demak ini terungkur. Raja besar itu makin terguncang saat di dalam kecamuk perang, Gunung Merapi mendadak meletus serta laharnya menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung itu.

Sultan Hadiwijaya tahu, senjakala baginya telah tiba. Ia juga menarik menarik sisa-sisa pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia berkunjung ke makam Sunan Tembayat, tetapi tidak dapat buka pintu gerbang makam. Ia juga terasa ajalnya bakal selekasnya tiba. Namun ia mau mati di Pajang. Malang, disebabkan luka-luka perangnya, Sultan Hadiwijaya jatuh dari punggung gajah tunggangannya. Si Jaka Tingkir ini pada akhirnya wafat dunia th. 1582, dimakamkan di desa Perlu, Sragen, yang disebut kampung halaman kandungnya, Nyi Ageng Pengging.

Lima tahun. sesudah kematian Sultan Hadiwijaya dengan kata lain Jaka Tingkir, Kerajaan Pajang tamat. Pajang juga jadi negeri bawahan Mataram, di pimpin oleh seseorang bupati, yakni Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

Makam Kembar Jaka Tingkir.

Di manakah Sultan Pajang itu dimakamkan?

Sesudah beberapa ratus tahun kematiannya, sekurang-kurangnya sampai saat ini ada dua makam yang dipercaya orang-orang juga sebagai makam Sultan Hadiwijaya. Tak masuk akal memanglah, namun tersebut yang berlangsung. Satu makam di Kota Gede, satunya lagi di Desa Perlu, Kecamatan Plupuh, Sragen. Di Desa Perlu, makam Sultan Hadiwijaya itu ada di kompleks pemakaman di dalam rimba, seputar 10 km. arah timur laut dari Kota Solo. Jalan menuju ke pemakaman itu tak terlampau bagus. Jalannya berlubang-lubang serta sempit, seputar tiga sampai empat km. dari kompleks pemakaman. Jauh dari kebisingan kota, situasi kompleks pemakaman ini sangatlah teduh. Suatu pohon besar berdiri tegak menaungi masjid kecil yang cukup tertangani. Jalan masuk menuju gerbang pemakaman yang berlapis semen juga rapi, bersih, serta bersahaja.

Di kompleks inilah terdapat makam penguasa Keraton Pajang (1550-1582), Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Raja Pajang yang waktu saat kecil bernama Mas Karebet ini di kenal juga sebagai salah satu cikal akan raja-raja Jawa. Pajang, kerajaan yang di pimpinnya, yaitu embrio kerajaan Mataram yang lalu berkembang lagi jadi Kesultanan Yogyakarta serta Kasunanan Surakarta. Untuk masuk ke sisi dalam kompleks pemakaman, pengunjung mesti melepas alas kaki. Di samping dalam kompleks pemakaman yang dikelilingi tembok itu ada kian lebih 20 pusara. Sembilan pusara salah satunya ada didalam rumah tua yang ada didalam kompleks pemakaman. Pusara Joko Tingkir ada di bagian tengah rumah. Didalam rumah yang alasnya telah bertegel itu juga ada pusara orang-tua Joko Tingkir, yaitu Ki Kebo Kenanga serta Nyi Kebo Kenanga.

Terkecuali pusara, di halaman kompleks pemakaman ada kotak kaca yang di dalamnya diisi batang kayu yang telah kropos. Batang kayu tua ini dipercaya pernah digunakan Joko Tingkir pada era ke-16 waktu menuju Perlu lewat Bengawan Solo untuk berguru pada Ki Ageng Perlu. Sama juga dengan bapak Jaka Tingkir, Ki Kebo Kenanga, Ki Ageng Perlu juga berguru pada Syeh Siti Jenar, tokoh sufi yang dihukum mati oleh Wali Songo. Perjalanan hidup Jaka Tingkir yang pernah jadi raja mengakibatkan makamnya sering dikunjungi orang, dari mulai rakyat jelata sampai petinggi di daerah ataupun di pusat. Bahkan juga, banyak orang yang dengan cara spesial bersemadi sepanjang berhari-hari di makam yang dikira keramat.

Diluar itu, orang kerap mendatangi makam tokoh, seperti Jaka Tingkir, lantaran raja dalam kebiasaan Jawa bukanlah sembarang orang. Ia mesti kejatuhan wahyu kedaton terlebih dulu. Dengan kata lain, seorang mesti memperoleh anugerah dari kemampuan adikodrati saat sebelum menempati takhta kekuasaan. Kian lebih itu, seseorang raja juga mesti mempunyai kedekatan dengan kemampuan adikodrati Tidak mengherankan, cerita raja yang saat sebelum berkuasa memperoleh anugerah adikodrati serta berkemampuan membina jalinan dengan cara kontinu dengan penguasa alam gaib sangatlah kerap dijumpai dalam legenda raja Jawa.

Seseorang warga, sebut saja Agus, mengakui pernah semedi di makam Jaka Tingkir sepanjang dua hari. Tidak ada hasrat apapun mengapa ia nglakoni (laris) di makam itu. “Waktu itu malam Jumat Kliwon. Saya cuma mau tahu terasa lek-lekan (tak tidur selama malam) di makam. Saya cuma kuat semalam, ” katanya. Agus menjelaskan, seseorang kerabat sempat juga lakukan semedi di kompleks pemakaman Jaka Tingkir. Tidak sama dengan dianya yang cuma bertahan semalam, si kerabat ini mampu sampai sebelas malam berturut-turut. “Orang yang nglakoni di makam Jaka Tingkir umumnya memanglah didorong motivasi yang berbagai macam, ” tuturnya.

Agus mengakui tidak ingin menginginkan apapun dari lakunya di makam Jaka Tingkir, lantaran takut melawan hukum agamanya, Islam. “Kita cuma bisa mengharapkan dari Allah, tak dari makam atau yang lain. Apa yang saya kerjakan cuma hanya untuk nglakoni, sekalian berdoa untuk leluhur, ” katanya. Sesaat juru kunci makam Jaka Tingkir, Jono (56), mengungkap, terkecuali sebatas untuk nyekar (menaburkan kembang), beberapa orang yang datang ke makam Jaka Tingkir ada juga yang mengharapkan memperoleh panduan tentang saat depannya. Walau sekian, sepanjang belasan th. melindungi makam itu, ia terasa tak pernah menjumpai beberapa hal yang berbentuk gaib.

Walau jumlahnya makin sedikit, laris tapa prihatin sangatlah erat dalam kehidupan orang Jawa, terlebih mereka yang sungguh-sungguh menghayati kejawen. Bentuk laris tapa, seperti puasa, menyepi, kungkum (berendam di mata air) waktu malam hari, dipercaya bisa menghantarkan orang untuk aneges karsa atau tahu kehendak Tuhan atas dianya. Laris aneges karsa ini sesungguhnya sangatlah diperlukan manusia. Aktivitas, kebisingan, gelora nafsu dalam diri, bikin manusia sering tidak berhasil mengerti kehendak Yang Kuasa atas dianya. Laris aneges karsa cuma dapat diraih melalui hening sekalian kerendahan hati.

Menurut sang juru kunci, sikap Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir waktu kalah dalam perang melawan Mataram (Sutawijaya), layak diteladani. Terlebih yaitu ketentuan Sultan Hadiwijaya yang membatalkan tujuannya untuk membalas dendam atas kekalahannya dari Sutawijaya menunjukkan sikap pasrah pada kehendak Yang Kuasa. “Ia ingin rendah hati serta singkirkan nafsu kekuasaannya. Ia bersedia melakukan apa sebagai pekerjaan dalam kehidupannya, yaitu mengajar rakyat serta meningkatkan kebiasaan baru di dalam orang-orang”.

Sejarah Joko Tingkir

Jaka Tingkir

joko tingkirSejarah Joko Tingkir – Nama asli dari Joko Tingkir yaitu Mas Karebet. Bapak Joko Tingkir adalah murid Syekh Siti Jenar yang bernama Ki Ageng Pengging. Bapak Joko Tingkir memiliki rekan seseorang dalang yang bernama Ki Ageng Tingkir. Waktu Joko Tingkir dilahirkan, Ki Ageng tengah melakukan pergelaran wayang dengan Ki Ageng Tingkir. Tetapi sesudah pulang dari pertunjukan Ki Ageng Tingkir mendadak jatuh sakit serta wafat. Ki Ageng Pengging pernah dituduh juga sebagai pemberontak Kerajaan Demak hingga dihukum mati oleh Sunan Kudus. Sesudah Ki Ageng wafat, Nyai Ageng Pengging yang disebut ibu Mas Karebet juga wafat sesudah jatuh sakit. Mulai sejak tersebut Mas Karebet diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir (istri Ki Ageng Tingkir). Sepanjang diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir, Mas Karebet tumbuh jadi sosok pemuda yang sangatlah suka pada bertapa.

Asal Mula Panggilan Joko Tingkir

Mas Karebet juga dijuluki Joko Tingkir lantaran dia masih tetap muda jadi anak angkat Nyai Ageng Tingkir. Joko Tingkir juga berguru pada Sunan Kalijaga. Terkecuali pada Sunan Kalijaga, dia sempat juga berguru pada Ki Ageng Sela. Sesudah berguru, Joko Tingkir mau mengabdi ke kerajaan Demak. Disana Joko Tingkir tinggal di suatu rumah Kyai Gandamustaka. Kyai Gandamustaka adalah saudara Nyi Ageng Tingkir sebagai perawat Masjid Agung Demak serta berpangkat lurah ganjur. Lantaran Joko Tingkir pintar menarik simpati Raja Trenggana, pada akhirnya Joko Tingkir diangkat jadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.

Sesudah diangkat jadi kepala prajurit Demak, Joko Tingkir di beri pekerjaan untuk menyeleksi tentara baru yang bakal masuk jadi prajuritnya. Di antara calon tentara baru ada seorang yang bernama Dadungawu yang sangatlah sombong dengan kesaktiannya. Lantas, Joko Tingkir menguji kesaktian Dadungawuk. Tetapi dalam uji kesaktian, Dadungawuk tewas cuma dengan memakai Sadak Kinang. Mengakibatkan tewasnya salah satu calon prajuritnya, Joko Tingkir dipecat Sultan Trenggono dari ketentaraan serta diusir dari Demak.

Sesudah diusir dari Demak, Joko Tingkir berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro yang disebut saudara tua ayahnya. Sesudah tamat berguru, dia kembali pada Demak berbarengan ketiga murid yang lain, yakni Mas Manca, Mas Wila, serta Ki Wuragil. Dalam perjalanan, rombongan Joko Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge dengan memakai rakit. Mendadak nampak siluman buaya yang menyerang mereka. Tetapi dengan kesaktian ke empat murid itu, siluman buaya mampu untuk dikalahkan. Bahkan juga, siluman-siluman itu menolong Joko Tingkir mendorong rakit hingga ke maksud.

Ketika itu, Sultan Trenggono dengan keluarganya tengah melakukan wisata di Gunung Prawoto. Lantaran Joko Tingkir mau mencari simpati dari Trenggana untuk terima Joko Tingkir kembali di kerajaan Demak, dia melepas seekor kerbau hilang ingatan yang dinamakan Kebo Danu. Kerbau itu di beri mantra oleh Joko Tingkir lewat cara di beri tanah kuburan pada telinga kerbau. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, dimana tak ada prajurit yang dapat hentikan kerbau itu. Mendadak Joko Tingkir nampak serta hadapi kerbau hilang ingatan. Kerbau itu dengan gampang dibunuh ditangan Joko Tingkir. Atas layanan Joko Tingkir, Sultan Trenggono mengangkat kembali Joko Tingkir jadi lurah wiratama.

Joko Tingkir lahir saat Ki Ageng Tingkir, guru Ayahnya (Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenongo), jadi dalang wayang papar, oleh karena itu Joko Tingkir di sebut Karebet lantaran Wayang Papar yang terbuat dari kertas berbunyi “Kerebet-Kerebet” apabila tertiup angin waktu hujan. Ki Ageng Pengging berguru Pada Syech Siti Jenar, yang mengajarkan rencanaManunggaling kawulo gusti (Wahdatul Sujud) yang dikira melenceng dari ajaran Islam. Ki Ageng Pengging di eksekusi oleh Sunan Kudus atas Perintah Sultan Bintoro (Raden Patah). Teman dekat tunggal Guru Ki Ageng Pengging yaitu Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarup, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Perlu, Ki Ageng Majasta, Ki Ageng Banyu biru, Ki Ageng Nglawean, Ki Ageng Talpitu.

Empat puluh hari lalu, Nyai Ageng Pengging Wafat, serta Karebet di bawa serta di asuh oleh Nyai Ageng Tingkir (yang juga telah Janda) di desa Tingkir, oleh karena itu dikenal juga sebagai Joko Tingkir. Dalam perjalanan ke Demak, Joko tingkir bersua dengan Sunan Kali Jaga lah yang meramalnya bahwa Nantinya dia bakal jadi Raja Besar di Jawa.

Arya Panangsang VS Joko Tingkir,

bukanlah lantaran motif dendam ataupun yang lain, tetapi konflik di sini berlangsung lantaran satu ketidaksamaan pandangan dalam kemaslahatan pengetahuan Ma’rifatillah. Inilah simakannya, berubahnya karakter Arya Panangsang, berawal dari kematian gurunya Panglima Pasopati agung Sunan Kudus, serta mulai sejak itu juga sifatnya sangatlah keras, angkuh serta terasa paling sakti didunia. Hal sejenis ini baginya tak ada lagi Wali yang dapat menuntunnya terkecuali (Alm) gurunya.

Cerita pergantian karakter Arya Panangsang, bikin semua murid Wali yang lain terasa tercengang. Ya siapa yang tidak kenal dengan nama Arya Panangsang, seseorang panglima perang paling tangguh dengan semua kesaktian yang pernah ada, beliau juga seseorang yang sangatlah arif serta bijaksana dalam semuanya, tetapi dengan perubahannya sekarang ini bikin hati beberapa murid yang lain sangatlah terpukul.

Bagaimana tidak, Arya Panangsang senantiasa mengumbar emosinya dengan menantang seluruhnya juara sampai kerap bikin keonaran dimana-mana. Beberapa puluh bahkan juga beberapa ratus juara yang terasa tersinggung atas kesombongannya pasti selesai dengan kematian. Dalam situasi yg tidak menentu, salah satu murid Sunan Kali Jaga, yang bernama Joko Tingkir, menghadap gurunya untuk minta ijin manfaat melawan kesombongan Arya Panangsang.

“Wahai Joko Tingkir, janganlah kau sia-siakan hidupmu cuma lantaran Arya Panangsang, sebenarnya orang yang bakal kau hadapi yaitu hamba yang saat ini tengah zadabiyyah (Cuma ingat pada Allah) jika hingga kau menang jadi Allah murka kepadamu serta bila kau kalah, jadi dirimu bakal dilaknat oleh-Nya, lantaran melawan orang yang tengah jatuh cinta pada tuhan-Nya, diamlah sampai satu hari nantinya Allah mengijinkanmu”

Dengan taat Joko Tingkir, segera mengundurkan diri dari hadapan gurunya serta segera bertaubat pada Allah, atas praduga yang kurang baik pada diri Arya Panangsang. Juga Sunan Kali Jaga, sesudah kepergian muridnya beliau segera meminta panduan pada Allah, atas perilaku Arya Panangsang, yang dikira telah melampui batas Syar’i serta akidah.

Dalam situasi khusu’ mendadak Sunan Kudus, nampak di hadapannya : “Assalamu alaikum ya Autadulloh” yang segera dibalas oleh Sunan Kali Jaga : “Waalaikum salam ya ahlul Jannah”

“Angger KaliJogo, doamu hingga menggetarkan tiang surga serta alamul Arsy, saya mengerti apa sebagai beban dihatimu, tetapi ketahuilah,,,, Allah sudah menggariskan lain di Lauhul-Mahfud, bahwa Arya Panangsang, bakal jadi hamba solehnya dialamul Jannah lantaran mati ditangan muridmu, sesama Waliyulloh. Datangilah istrinya serta rayu dia supaya suaminya ingin dengarkan apa yang kau inginkan”

Kemudian Sunan Kali Jaga, segera pergi meninggalkan tempat tinggalnya menuju istri Arya Panangsang yang bernama Retno Kencono Wungu, putri dari Dewi Lanjar, Penguasa Laut Utara. Sesampainya di tempat maksud, nyatanya Arya Panangsang, segera menunggunya : “Wahai Quthbul Autad, saya tahu kau barusan bersua dengan guruku serta merekomendasikan supaya istriku dapat menasehatiku, tetapi ketahuilah!!! saya tak dapat dinasehati olehmu terkecuali dengan kematian”

Dengan sambutan yang kurang mengenakkan hati ini pada akhirnya Sunan Kali Jaga, segera undur pamit. Setelah itu beliau tak segera pulang tetapi bersilaturrohmi kerumah istrinya Joko Tingkir, yang bernama Dewi Nawang Wulan Sari, putri dari ibu agung Nawang Wulan, Penguasa Pantai Selatan. Tahu yang datang gurunya, suami istri ini sangatlah bersuka cita serta cepat-cepat menjamunya penuh penghormatan. Sang Sunan juga segera menceritakan perjalanannya mulai sejak bersua dengan Sunan Kudus sampai hingga datang kerumah Arya panangsang.

Kisah Perjalanan Hidup Jaka Tingkir

joko tingkir

Jaka TingkirKisah Perjalanan Hidup Jaka Tingkir – Satu hari Ki Ageng Tingkir punya mimpi, di dalam mimpinya Ia memperoleh wangsit agar menuai kelapa muda dari pohon yang ada disamping tempat tinggalnya, di dalam mimpinya Ia disuruh agar meminum habis air dalam kelapa muda itu. Lantaran siapa saja bisa meminum hingga habis dengan cara segera dalam sekali minum, nantinya keturunanya bakal jadi penguasa yang besar. Sesudah bangun dari tidurnya Ki Ageng bergegas menuju pohon kelapa yang ada pada mimpinya. Perasaan heran nampak dalam benaknya, lantaran pohon yang harusnya belum berbuah mendadak nampak satu buah kelapa muda yang cukup besar ukuranya. Lantaran takut ada orang lain yang bakal memetiknya, Ia bergegas memanjat serta menuai kelapa itu.

Ki Ageng bergegas mengupas kelapa muda itu, serta mau meminumnya. Tetapi sesudah sisi atas dari kelapa itu terbuka Ia lihat air kelapa yang cukup banyak. Sesuai sama apa yang diperintahkan dalam mimpinya, hingga Ia berpikiran tidak bisa menggunakan air kelapa itu dalam sekali minum, lantaran waktu itu memanglah masih tetap pagi serta Ia belum rasakan rasa haus. Lantas Ki Ageng berinisiatif untuk menaruh kelapa itu di tempat penyimpanan kayu di atas dapur tempat tinggalnya (pogo). Ia berpikiran bisa menggunakan air kelapa itu dalam sekali minum sesudah dianya kelak melakukan aktivitas sepanjang hari serta rasakan haus.

Waktu Ki Ageng Tingkir menggembalakan kerbaunya, kerabatnya dari Pajang yakni Ki Ageng Pengging bertamu kerumahnya. Nyai Ageng Tingkir yang waktu itu dirumah kebingungan untuk menjamu tamunya itu, lantaran ketika itu belum memasak air untuk disuguhi pada Ki Ageng Pengging yang tampak capek sesudah jauh lakukan perjalanan dari tempat tinggalnya. Dengan cara diam-diam nyatanya Nyai Ageng Tingkir tahu apa yang dikerjakan suaminya tadi pagi, Ia lihat Ki Ageng Tingkir mengupas kelapa serta menyimpan kelapa muda itu di tempat penyimpanan kayu. Ia berpikiran bila Ki Ageng Tingkir sudah tahu bila Ki Ageng Pengging akan tiba kerumahnya, hingga Ia berprasangka Suaminya berniat sudah mempersiapkan kelapa muda itu untuk disuguhi kapada Ki Ageng Pengging.

Lantaran demikian haus sesudah lakukan perjalanan yang sangatlah jauh, Ki Ageng Pengging menggunakan air kelapa muda yang disuguhi Nyi Ageng Tingkir dalam sekali minum. Sore hari Ki Ageng Tingkir pulang dari menggembalakn kerbau-kerbaunya dengan rasa capek serta sangatlah haus. Sesampainya dirumah Ia bergegas mau mengambil kelapa yang disimpanya tadi pagi. tetapi Ia kaget lihat kelapa muda yang Ia taruh tadi telah ada di atas meja dengan keadaan yang kosong tidak ada bekas air kelapa didalamnya. Lantas Ia bertanya pada Istrinya, Nayi Ageng menuturkan bila kelapa muda tadi Ia suguhkan pada Ki Ageng pengging yang barusan bertamu kerumahnya. Lantaran belum demikian lama kepulangan Ki Ageng Pengging dari tempat tinggalnya, Ki Angeng Tingkir bergegas menyusul Ki Ageng Pengging yang tengah dalam pejalanan pulang.

Ki Ageng Tingkir sukses menjumpai Ki Ageng Pengging waktu dalam perjalanan pulang. Ia menuturkan pada Ki Ageng Pengging bila kelapa muda yang diminumnya tadi tidaklah kelapa asal-asalan, tetapi kelapa sebagai wangsit yang Ia bisa dari mimpinya, Ia juga menuturkan bahwa barangsiapa meminum air kalapa tadi, nantinya keturunanya bakal mejadi seseorang yang berkuasa. Oleh karenanya Ki Ageng Tingkir Berpesan pada Ki Ageng Pengging, jika keturunan Ki Ageng Pengging besok jadi seseorang yang berkuasa, Ia meminta agar keturnanya juga diberikan tahta maupun jabatan dalam kerajaan itu. Ki Ageng Pengging menyepakati keinginan Ki Ageng Tingkir itu, lalu Ia meneruskan perjalanan pulang.

Satu hari Ki Ageng Pengging mengadakan wayang Papar. Ia mengundang saudara-saudaranya yakni Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang. Saat malam itu juga Nyai Ageng Pengging yang tengah hamil tua melahirkan anak laki-laki yang tampan parasnya. Sesudah bayi dibikin bersih lantas dipangku oleh Ki Ageng Tingkir, Ia menyampaikan pada Ki Ageng Pengging bila anak ini nantinya bakal besar derajatnya. Serta anak itu dinamakan Mas Karebet oleh Ki Ageng Tingkir, lantaran lahirnya ketika ada pertunjukan wayang Papar.

Selang beberapa saat Ki Ageng Tingkir wafat dunia lantaran sakit. Sepuluh th. lalu Ki Ageng Pengging terserang oleh Sunan Kudus serta pasukan Kesultanan Demak, lantaran dituduh memberontak kesultanan Demak. Disebabkan serangan itu Ki Ageng Pengging tewas. Sesudah kematian suaminya Nyai Ageng Pengging jatuh sakit serta wafat juga. Mulai sejak itu Mas Karebet di asuh serta di ambil jadi anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir. Mas Karebet tumbuh jadi pemuda yang yang pintar serta suka bertapa. Atas panduan dari Ibu angkatnya Lalu Ia berguru pada Ki Ageng Sela. Dari sana Ia jadi orang yang sakti mandraguna serta di kenal dengan nama Jaka Tingkir.

Saat Ki Ageng Sela tengah menyepi, memperoleh wangsit bila Jaka Tingkir nantinya bakal jadi seseorang pemimpin dikerajaan Demak. Lantas Ia memerintahkan Jaka agar pergi ke Kesultanan Demak serta mengabdikan diri jadi prajurit di sana. Saat sebelum pergi menuju Kesultanan Demak Jaka Tingkir berpamitan pada Ibunya Nyai Ageng Tingkir. Ia bercerita pada Ibunya bila Ki Ageng Sela yang memerintahkanya. Nyai Ageng Tingkir merestui kepergian putra angkatnya itu ke Demak. Ia memberitahu bila di Demak Ia memiliki saudara yang bernama Ki Ganjur, Ia meminta Jaka untuk berkunjung di sana. Atas pertolongan Ki Ganjur Jaka Tingkir sukses di terima mengabdi pada Sultan Demak. Kanjeng Sultan sangatlah mengagumi akan pada Jaka Tingkir, karena berparas tampan dan sakti kedigdayaanya. Makin lama Jaka Tingkir diangkat jadi pimpinan prajurit Tamtama yang sangatlah populer di semua Demak. Sultan Demak meminta Jaka Tingkir agar tak memegahkan diri tetapi selalu taat pada perintah Sultan, dan bijaksana di dalam tanggung jawabnya juga sebagai pemimpin Prajurit Tamtama.

Satu hari Sang Prabu berkemauan untuk menaikkan prajurit Tamtama. Jaka Tingkir juga sebagai pemimpin disuruh untuk menyeleksi serta menguji tiap-tiap pemuda yang mau masuk jadi prajurit Tamtama. Waktu itu ada orang dari Kedu Pingit yang bernama Ki Dadung Awuk. Orang itu sangatlah sombong dengan kemampuan serta kesaktianya. Ia datang ke Demak punya niat jadi prajurit Tamtama. Saat di hadapan Jaka Tingkir Dadung Awuk sangatlah sombong, Ia tidak mau diseleksi seperti yang lain, tetapi jadi mau menjajal kesaktian dari Jaka Tingkir. Lantaran terasa disepelekan, Jaka Tingkir sakit hati serta tak dapat menahan emosinya hingga Oleh Jaka Tingkir Ia ditusuk dengan Sadak. Sampai dadanya pecah lantas tewas.

Ketika itu kematian Dadung Awuk dilaporkan pada Sultan. Bila Jaka Tingkir sudah membunuh orang yang bakal masuk jadi prajurit Tamtama. Kanjeng Sultan sangatlah geram, karena Ia raja yang sangatlah adil. Lalu Jaka Tingkir diusir dari Kesultanan Demak. Jaka Tingkir pergi saat itu juga dari Demak. Beberapa orang yang meliihat sangatlah sedih seluruhnya, rekan-rekan prajurit Tamtama juga menangisinya. Jaka Tingkir lantas mengembara ke rimba serta jalan sampai Gunung Kendeng. Disitu Ia bersua dengan Ki Ageng Perlu. Ki Ageng belum tahu bila Ia Jaka Tingkir atau Mas Karebet putra kandung dari saudaranya Ki Ageng Pengging. Sesudah Ki Ageng membantu Jaka Tingkir yang sangatlah kelelahan. Ia ajukan pertanyaan pada Jaka Tingkir tentang asal-usulnya lantaran Ia lihat Jaka Tingkir memiliki kemiripan dengan saudaranya yang sudah wafat yakni Ki Ageng Pengging. Jaka Tingkir menceritakan bila Ia yaitu anak dari Nyai Ageng Tingkir. Dari situ Ki Ageng kaget serta meyakini bila Jaka Tingkir yaitu Mas Karebet anak dari saudaranya yang bernama Ki Ageng Pengging. yang sepeninggal ke-2 orang tuanya Ia diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir yg tidak lain yaitu Istri dari saudaranya yang bernama Ki Ageng Tingkir.

Jaka Tingkir dirawat dengan sangatlah baik oleh Ki Ageng perlu. Ki Ageng juga mengundang saudaranya yakni Ki Ageng Ngerang yang lalu juga datang ke sana. Sesudah diberitahu bila Jaka Tingkir yaitu anak dari Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Ngerang selekasnya memeluk serta menangis lantaran waktu dahulu mau menengok ke Pengging ia tak bersua denganya lantaran Jaka Tingkir telah dibawa Ibunya ke Tingkir. Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang sangat banyak berikan ajaran pada Jaka Tingkir. Sesudah merampungkan pelajaranya Jaka Tingkir pamit pada Ki Ageng Perlu serta Ki Ageng Ngerang untuk kemabali ke Kesultanan Demak. Ia berasumsi lantaran perginya telah cukup lama Sultan pasti bertanya dianya.

Setibanya di Demak Jaka Tingkir bersua dengan rekan sesama Prajurit Tamtama dulu, Ia bertanya apakah Sultan mencari atau bertanya dianya. Tetapi jawab beberapa Tamtama, bahwa Sultan belum pernah bertanya dianya. Mendengar itu Jaka Tingkir sangatlah sedih hatinya. Lantas pamit pada rekan-temanya punya niat untuk mengembara lagi. Di dalam perjalananya Jaka Tingkir memperoleh wangsit agar pergi ke Banyu biru. Setibanya di sana Ia bersua dengan Ki Buyut Banyu Biru serta putra angkatnya yang bernama Mas Manca. Di sana ahttp://www.air-aura.com/ diangkat jadi putra oleh Ki Buyut. Lalu bersaudara dengan Mas Manca.

Sesudah genap enam bulan Jaka Tingkir serta Mas Manca berguru serta memperoleh pengajaran dari Ki Buyut Banyu Biru, Ki Buyut memerintahkan agar Ia selekasnya kembali pada Demak untuk memberikan diri pada Sultan. Ki Buyut juga memberi tuntunan pada Jaka Tingkir, lantaran waktu itu tengah musim penghujan Ki Buyut tahu bila Sultan pasti ada di Istana Gunung Prawata. Terkecuali memrintahkan pada Jaka Tingkir untuk ke sana. Ia juga memberi prasyarat yang dapat bikin Jaka Tingkir disikapi Kanjeng Sultan. Ki Buyut Banyu Biru memberi Jaka Tingkir segenggam ahttp://www.air-aura.com/ Siti Sangar, yang sesampainya di sana agar Ia input ke mulut Kebo Danu, yang nanti kerbau itu bakal mengamuk serta memporak porandakan Istana Prawata.

Ki Buyut Banyu Biru juga menuturkan, tak ada seseorangpun di Demak bisa membunuh kerbau itu. Itu sebagai karena nanti Sultan Demak bakal memanggil Jaka Tingkir untuk membunuh kerbau itu. Lantaran Ia hanya satu orang yang tahu kekurangan dari Kebo Danu itu, yakni dengan keluarkan terlebih dulu tanah Siti Sangar dari mulut kerbau itu. Yang lalu Kebo Danu baru bisa ditaklukan.

Dalam keberangkatan Jaka Tingkir ke Demak, Ki Buyut Banyu Biru memerintahkan Mas Manca serta ke-2 keponakanya yakni Ki Wuragil serta Ki Wila agar temani perjalanan Jaka Tingkir hingga di Demak. Ia juga meminta Jaka Tingkir agar ketiga orang tadi Ia jagalah serta jangan sempat berpisah denganya. Lantaran nantinya ketiga orang tadi bakal menolong dianya jadi seseorang yang berkuasa.

Pagi hari Ki Buyut Banyu Biru serta murid-muridnya lalu membikinkan rakit untuk Jaka Tingkir serta saudara-saudaranya. Sesudah seluruhnya siap lantas Jaka Tingkir serta rombongannya pergi menaiki rakit ikuti aliran sungai Dengkeng menuju Demak. Rupanya waktu itu ada anak buah dari Ki Buyut sebagai mata-mata gerombolan perampok yang sangatlah kuat serta ditakuti beberapa orang di Banyu Biru. Mata-mata itu lalu memberitahu kapada gerombolanya bila rombongan Jaka Tingkir bakal melalui sungai Dengkeng untuk menuju ke Demak.

Sore hari waktu melalui Kedung Srengenge mereka dihadang oleh segerombolan penjahat yang dijuluki Baya lantaran dikira Bebaya atau bahaya untuk beberapa orang yang melalui Kedung Srengenge.

Raja dari Baya itu bernama Bau Reksa serta patihnya Jalu Mampang. Grombolan Baya itu menyerang rombongan Jaka Tingkir hingga berlangsung perang yang sangatlah dahsyat dikedung itu. Dalam pertarungan itu Jaka Tingkir terserang sabetan clurit Jalu Mampang yang bikin dadanya sobek serta membekas luka sayatan. Tetapi Jaka Tingkir terus melawan dengan bringas hingga selanjutnya Jalu Mampang serta anak buahnya tewas ditangan Jaka Tingkir. Sedang Bau Reksa takluk serta tunduk di hadapan Mas Manca. Bau Reksa serta bekas anak buahnya pada akhirnya diperintahkan Jaka Tingkir untuk menolong mendorong rakit Jaka Tingkir serta rombongan hingga di Demak.

Sesampainya di Istana Prawata, Jaka Tingkir lihat Sultan masih tetap berkunjung di dalam istana. Tanpa ada memikirkan panjang Ia mencari Kebo Danu di sekitar Istana Prawata. Tak perlu saat yang lama Jaka Tingkir memperoleh Kebo Danu serta segera memasukan Tanah Siti Sangar kedalam mulutnya. Kerbau itupun mengamuk serta memporakporandakan Pesanggrahan Prawata. Banyak beberapa orang yang luka serta tewas disebabkan keganasan Kerbau itu.

Mendengar korban yang berjatuhan disebabkan amukan Kebo Danu makin banyak, Sultan meminta Prajurit Tamtama untuk membunuh kerbau itu. Kerbau itu dikeroyok serta ditusuk beragam senjata tetapi tak mempan. Amukan kerbau itu sudah berjalan sampai tiga hari tiga malam belum ada seseorangpun yang sukses menaklukan amukan Kebo Danu. Kerbau itu pada malam hari masuk ke hutan lalu siang harinya keluar lagi mengobrak-abrik pesanggrahan serta memangsa beberapa orang di pesanggrahan itu.

Sehari-hari Sultan berlindung di atas panggung pesanggrahan sembari lihat Kebo Danu mengamuk ke sana kemari tidak ada seseorangpun yang berupaya hadapi. Sultan cuma pasrah serta mengharapkan Kebo Danu bakal pergi dengan sendirinya dari pesanggrahan Prawata. Waktu itu Jaka Tingkir tampak jalan melalui depan panggung dengan enjoy seakan-akan tidak perduli dengan situasi yang berlangsung. Sultan yang lihat Jaka Tingkir serta rombongan lalu memanggil abdinya yang bernama Jebad. Lalu menyuruh Jebad agar menjumpai Jaka Tingkir serta meminta Jaka agar menaklukan Kebo Danu. Sesuai sama perintah Sultan jika Jaka Tingkir bisa menaklukan Kebo Danu jadi kekeliruanya bakal diampuni serta bakal di terima kembali di Kesultanan Demak.

Jaka Tingkir saguh dengan perintah Sultan. Lalu Ia meminta pada beberapa orang disitu agar mengepung melingkari Kebo Danu. Termasuk juga Mas Manca, Ki Wuragil serta Ki Wila menolong mengepung kerbau itu. Perkelahian hebatpun berlangsung pada Jaka Tingkir serta Kebo Danu. Sultan yang lihat pertempuran itu menyuruh agar prajuritnya menabuh gong Monggah untuk berikan semangat pada Jaka Tingkir.

Perkelahian pada Jaka Tingkir serta Kebo Danu berjalan cukup lama, beberapa orang yang melihat waktu itu keheran-heranan. Jaka Tingkir yang berkali-kali jatuh serta dilempar keatas lalu di terima dengan tanduk namun masih tetap tampak trengginas walau tubuhya penuh luka. Lalu oleh Jaka Tingkir tanduk dan ekor dari Kebo Danu di tangkap, lantas dihentak. Tanah Siti Sangarpun keluar dari mulutnya, lalu Kebo Danu ditempeleng sampai remuk kepalanya hingga tewas saat itu juga, bikin mengagumi akan dan senang Sang Sultan serta beberapa orang yang ketika itu menyasikanya.

Sesuai sama janjinya Sultan Demak menganugrahi Jaka Tingkir dengan kembalikan kedudukanya seperti dulu yakni juga sebagai pemimpin prajurit Tamtama Kerajaan Demak.

Jaka Tingkir di hadapan Sultan sangatlah menghormati. Ia taat pada semuanya yang diperintahkan Sultan Trenggana. Sesudah satu tahun lebih mengabdi juga sebagai pemimpin prajurit Tamtama, Jaka Tingkir bisa mengubah kerajaan Demak jadi lebih aman serta tentram hingga bikin pikiran Sultan tenang serta nyaman. Hal semacam itu rupanya menarik simpati Sultan terhadapnya. Oleh Sultan Trenggana, Jaka Tingkir pada akhirnya diangkat jadi Bupati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, yakni Putri Sultan Trenggana.

Di bawah pemerintahan Adiwijaya kabupaten pajang berkembang dengan cepat, banyak kerajaan lain yang mulai tunduk pada kerajaan itu. Sepeninggal Sultan Trenggana, putranya yang bergelar Sunan Prawoto naik takhta, namun lalu tewas dibunuh Arya Penangsang yakni sepupunya di Jipang panolan. Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat, menantu Sultan Trenggana sebagai bupati Jepara.

Lalu Arya Penangsang kirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, namun tidak berhasil. Malah Adiwijaya menjamu beberapa pembunuh itu dengan baik, dan berikan mereka hadiah untuk membuat malu Arya Penangsang. Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat yang disebut adik dari Sunan Prawoto menekan Adiwijaya supaya menumpas Arya Penangsang lantaran cuma ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang itu. Adiwijaya segan memerangi Arya Penangsang dengan cara segera lantaran keduanya sama anggota keluarga Demak. Jadi, Adiwijaya juga mengadakan sayembara. Barangsiapa bisa membunuh Arya Penangsang bakal memperoleh tanah Pati serta Mataram juga sebagai hadiah. Sayembara diikuti ke-2 cucu Ki Ageng Sela, yakni Ki Ageng Pemanahan serta Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani yakni kakak ipar Ki Ageng Pemanahan, Ia sukses membuat siasat cerdik hingga menewaskan Arya Penangsang di pinggir Bengawan Sore.

Sesudah momen itu, Ratu Kalinyamat menyerahkan takhta Demak pada Adiwijaya. Pusat kerajaan itu lalu dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya juga sebagai sultan pertama. Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca jadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedang Mas Wila serta Ki Wuragil jadikan menteri berpangkat ngabehi. Sesuai sama kesepakatan sayembara, Ki Panjawi memperoleh tanah Pati serta bergelar Ki Ageng Pati. Disamping itu, Ki Ageng Pemanahan masih tetap menanti lantaran seakan-akan Sultan Adiwijaya tunda penyerahan tanah Mataram.

Th. untuk th. kesepakatan teratasi, tanah Mataram masih tetap ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga sebagai guru tampak juga sebagai penengah ke-2 muridnya itu. Nyatanya, argumen penundaan hadiah yaitu karena rasa kuatir Adiwijaya saat mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram bakal lahir suatu kerajaan yang dapat menaklukkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya waktu ia dilantik jadi sultan selesai kematian Arya Penangsang.

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya supaya menepati janji lantaran juga sebagai raja ia yaitu contoh rakyat. Demikian sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga harus bersumpah setia pada Pajang. Ki Ageng bersedia. Jadi, Adiwijaya juga ikhlas menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu. Tanah Mataram yaitu sisa kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang waktu itu telah tertutup rimba bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk juga Ki Juru Martani, buka rimba itu jadi desa Mataram. Walau cuma suatu desa tetapi berbentuk perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang lalu bergelar Ki Ageng Mataram, cuma harus menghadap ke Pajang dengan cara teratur juga sebagai bukti kesetiaan.

Sunan Prapen untuk pertama kalinya bersua dengan Ki Ageng Pemanahan serta untuk ke-2 kalinya meramalkan bahwa Pajang bakal dikalahkan Mataram lewat keturunan Ki Ageng itu. Mendengar ramalan itu, Adiwijaya tak akan terasa kuatir lantaran ia menyerahkan seluruhnya pada kehendak takdir. Sutawijaya yaitu putra Ki Ageng Pemanahan yang juga jadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya yakni Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya jadi penguasa baru di Mataram, serta di beri hak tidak untuk menghadap sepanjang satu tahun penuh.

Saat satu tahun berlalu serta Sutawijaya tak datang menghadap. Adiwijaya kirim Ngabehi Wilamarta serta Ngabehi Wuragil untuk bertanya kesetiaan Mataram. Mereka temukan Sutawijaya berlaku kurang sopan serta berkesan mau memberontak. Tetapi ke-2 petinggi senior itu pintar menentramkan hati Adiwijaya lewat laporan mereka yang di sampaikan dengan cara halus. Th. untuk th. berlalu. Adiwijaya mendengar perkembangan Mataram makin cepat. Ia juga kembali kirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kesempatan ini yang pergi yaitu Pangeran Benawa yang disebut putra mahkota, Arya Pamalad yang disebut adipati Tuban, dan Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya.

Sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya. Disuatu hari seseorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati lantaran berani menyusup ke keputrian menjumpai Ratu Sekar Kedaton yang disebut putri bungsu Adiwijaya. Bapak Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang lantaran disangka turut menolong anaknya.

Ibu Raden Pabelan yang disebut adik wanita Sutawijaya meminta pertolongan ke Mataram. Sutawijaya juga kirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang. Perbuatan Sutawijaya itu jadi argumen Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang pada ke-2 pihak juga meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah semakin banyak, tetapi menanggung derita kekalahan. Adiwijaya makin tergoncang mendengar Gunung Merapi mendadak meletus serta laharnya turut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung itu.

Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia berkunjung ke makam Sunan Tembayat tetapi tak dapat buka pintu gerbangnya. Hal semacam itu dia anggap juga sebagai firasat bila ajalnya selekasnya tiba. Adiwijaya meneruskan perjalanan pulang. Di dalam jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, hingga mesti diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, bikin sakitnya jadi tambah kronis.

Adiwijaya berwasiat agar anak-anak serta menantunya janganlah ada yang membenci Sutawijaya, lantaran perang pada Pajang serta Mataram diyakininya juga sebagai takdir. Diluar itu, Sutawijaya sendiri yaitu anak angkat Adiwijaya yang dia anggap juga sebagai putra tertua. Adiwijaya dengan kata lain Jaka Tingkir pada akhirnya wafat dunia. Ia dimakamkan di desa Perlu, yakni kampung halaman ibu kandungnya.

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!